Friday, September 25, 2015

Percobaan

Bloggerku error 😭

Readmore → Percobaan

Monday, September 21, 2015

The Real Sweetheart, Kim Jong Dae



The Real Sweetheart




Ini akan membahas tentang moment-moment dengan sosok The Real Sweetheart yang ada di dunia nyata yang aku tahu, yang tgl 21 baru ultah! (Lihat gif) Ciee.. Bisa ultah juga ya Maknae ehem/? yang satu ini. :') *Plakkk
Happy Birthday, Chen Chen Oppa! I always wish you all the best. Dan semoga cepat diberi petunjuk ke jalan yang benar, :') biar kita bisa .../? Ah, sudahlah. -,-
Telat kah? Ia telat. Tapi bukan karena lupa lho.. Ini hanya karena 'ini dan itu' dan banyak yang harus dikerjakan, jadi aku baru bisa nulis di blog sekarang (meski dengan segala keterbatasan :') ). Tapi sebelum ini juga aku udah ngucapin kok! Di Bbm, fb, twitter, di Instagram (Instagram hampir tapi gagal u,u ).
*Cukup!! Banyak alasan!! Langsung aja, kelamaan!


Sejak pertama teman memperkenalkan 12 alien yang jago dance dan nyanyi (Raad: EXO waktu OT12), sosok ini sudah mencuri perhatianku dengan suaranya yang WOW. Meskipun aku tidak menjadi Exo-L, tapi tanpa melihat apapun (PCY yg lebih tinggi, BBH yg lebih cute, dll) sejak itu aku mulai menyukai Chen. Tapi ku rasa bukan hanya suaranya yang membuatku menyukainya, buktinya meskipun dulu Chen kalah di battle nada tinggi di weekly idol, aku tetap menyukainya sampai sekarang! Ada hal lain yang lebih istimewa, itu adalah hatinya. His sweet heart, dan semua yang ada padanya.

Yang Exo-L, pasti ingat moment-moment ini. (aku aja yang bukan exo-l ingat kok :') )
~Backsound, Chen Exo - Best Luck, Chen Exo - Nothing Better

1. Chen yang suka nge-troll tetap Chen yg sweetheart



Disaat orang-orang fokus pada troll momentnya Chen, kadang mereka lupa dengan ke-sweetheart-annya yang tetap ada. Ingat saat semua member main pukul-pukulan pakai bantal love merah di panggung waktu zaman XOXO, Chen memukul D.O dan D.O juga membalasnya. Dan setelah itu Chen memeluk D.O dengan hangatnya. Juga di Exo Rap Battle /? (Kalau gak salah). Waktu Chen & D.O sukses membuat Kai dihukum dan dikeroyok semua member, akhirnya Chen tetap memeluk Kai dengan hangatnya.

2. He always try to be the best.
Chen yang ngotot pingin belajar bahasa China, dan targetnya adalah membuat orang-orang bingung apakah ia orang Korea atau China.

3. Ia yang hampir tak terlihat, tapi tetap berani.
  

Tidak bisa dipungkiri, di awal-awal debut Exo, zaman Mama, Chen seolah tidak sebersinar member lainnya. Padahal ia ambil banyak bagian di sepanjang lagu. Ia belum memiliki penggemar sebanyak member lainnya. I do remember saat Chen berjalan di airport bersama beberapa member lainnya. Saa itu para member mendapatkan banyak hadiaj dari fasn, tapi Chen adalah satu-satunya member yang berjalan dengan tangan kosong tanpa memegang hadiah dari fans. Meski begitu, Chen tetap berjalan dan menegakkan kepalanya dengan tersenyum.

4. Chen yang super humble.
Bukan rahasia lagi bahwa Chen memiliki suara yang luar biasa. Ia selalu bisa bernyanyi dengan sepenuh hati dan membuat lagu menjadi lebih hidup. Tapi saat seorang fans memujinya dengan mengatakan bahwa ia memiliki suara seperti malaikat, ia malah menjawabnya dengan "Me? Have you heard baek's? His voice is really daebak!"

5. Chen yang sayang semua member.
Khasnya Chen itu di ship sama xiumin ya? Tapi untuk mencari Chen skinship moment (jangan salfok) sama member manapun itu tidak sulit. Karena Chen memang tidak canggung untuk menunjukan kepeduliannya terhadap member lain, dibelakang maupun didepan kamera.
Chen yang mengusap keringat di kening Sehun, (Lihat gif)
Chen yang memeluk dan mencium kepala Baekhyun saat Baek menangis (Lihat gif)
dan Chen yang rela berlari kembali ke tengah panggung untuk mengambil jam tangan Tao yang terjatuh saat tidak ada siapapun yang peduli. Dan moment lainnya.


6. Ia menjadi dewa di fansign dan melakukan apapun untuk fans.



Ingat tanda tangan Chen? Ia merubahnya menjadi lebih simple untuk apa? Agar ia bisa menatap dan berinteraksi dengan fans sembari menulis. Ia memberi respon yang luar biasa untuk apapun yang dikatakan fans padanya. Ia tidak canggung untuk menunjukan ekspresi alami yang justru terlihat sangat lucu saat berhadapan dengan fans.



Ia mengajak fans mengobrol untuk mengusir rasa bosan fans selama fans menunggu giliran untuk tanda tangan member lainnya. Chen benar-benar membuat fans nyaman dengan sikapnya.

Aku ingat fakta seorang fans yang memiliki gangguan keterbatasan berbicara datang ke fansign.




Dan ia juga pernah berteriak untuk seorang fans "Selamat untuk pernikahanmu!" Saat fans itu pergi dari meja fansignnya.

Chen selalu memberikan motivasi pada siapapun.



Seorang fans yang datang dengan kepala tertunduk dan speechless, Chen memintanya untuk mengangkat kepala dan memujinya saat fans itu melakukannya. Chen juga memintanya untuk tetap mengangkat kepalanya dengam berani dan kuat.

Chen juga menenangkan seorang fans dengan harapan bahwa fans itu akan memiliki lebih banyak hari-hari yang bahagia daripada hari-hari yang sedih.
Dan jangan lupakan bagaimana Chen tersenyum di fansign. Begitu hangat dan tulus.



**Dan masih banyak yang lainnya. Terlalu banyak yang harus dibahas tentang ke-sweetheart-an Chen di fansign. Ku kira ia menyembunyikan semua rasa lelahnya untuk memberikan kesan terbaik bagi fans selama fansign. Aku tahu ia tidak ingin mengecewakan siapapun.

7. Chen yang telah bersinar tidak melupakan orang-orang yang bersamanya saat dulu.



YoungWoo-ssi. Ada yang ingat nama itu? Ia adalah teman sekolah Chen. Ia pernah menelpon ke radio saat Exo menjadi bintang tamu di radio tersebut. Bahkan sebelum YoungWoo menyebutkan namanya, Chen tersenyum terharu seolah mengenali suara YoungWoo. Dan saat YoungWoo memperkenalkan diri dan menyebutkan namanya, senyuman Chen semakin mengembang dan ia mengusap matanya yang berair. Mereka berbicara kenangan-kenangan yang mereka miliki. Dan Chen tetap masih mengingatnya. Chen mengatakan "Of course i remember that, baboya." dan membuat seisi studio tersentuh. Bahkan Chen mengingat kenangan yang YoungWoo sendiri telah lupa. Chen mengatakan ia sangat senang bisa berbicar dengan YounhWoo. Ia mengatakannya dengan tersenyum dan menangis terharu.

Hwaaaa~~!!!! Apalagi yang harus dibahas? Masih terlalu banyak hal lainnya. Seperti saat Chen mencegah Baekhyun memukul dadanya sendiri dan malah membiarkan pukulan Baekhyun berkali-kali mendarat di lengan Chen. Dan masih banyak lagi hal lainnya yang membuatku mengatakan bahwa ia adalah The Reall Sweetheart yang ada di dunia nyata.

Kim Jong Dae Oppa, banyak hal yang telah kau lewati. Sangat banyak dan aku tidak tahu hal-hal apa saja itu. Dan sekarang kau menjadi sosok luar biasa bersinar dengan kepribadian yang luar biasa manis dan baik. Tidak salah jika banyak orang yang mengatakan you're like an angel. Tidak perlu merubah kepribadian dan membuat pencitraan yang sedemikian rupa, cukup menjadi dirimu sendiri, itu sudah sangat luar biasa. It's a best luck untuk mengetahui bahwa kau ada dan melihatmu meski secara tidak langsung. Kau memberiku banyak pelajaran, bagaimana untuk menjadi seseorang yang tetap melakukan yang terbaik dan bersikap baik kepada siapapun, tidak peduli siapa dirimu dan siapa mereka.

21/09/1992 - 21/09/2015 Saengil chukkahamnida Kim JongDae Oppa, Chen chen, Chenzi, My lovely orange, My Sweetheart. Semoga semoga semoga...
.
.
.
.

Thanks for reading! :)

Readmore → The Real Sweetheart, Kim Jong Dae

Sunday, September 6, 2015

Soulmate Part 1 (Annyeong!)

Soulmate Part 1 (Annyeong!)



|| a story by Ly @Lia_YH ||

|| Length : 3 Shoot || 

|| Rating : PG-13 || 

|| Genre : Friendship, Schoollife, Family (sedikit) || 

|| Main Cast : Park Nana (OC) and Park Chanyeol EXO||

|| Other Cast : Kim Jia (OC), Byun Baekhyun Exo, and other||


||Bagian 1||


"Kenapa kau meninggalkanku?"

"Berhentilah mengejarku, Yeoli!!"

"Andwaeyo! Aku tidak akan berhenti sampai aku bisa menangkapmu! Hahaha.."
Sepasang anak kecil itu berlarian mengitari ayunan. Chanyeol sangat antusias mengejar yeoja kecil yang tampaknya benar-benar ingin menghindari Chanyeol. Hingga ke duanya lelah dan duduk di tanah. Chanyeol meletakan tangannya di bahu yeoja cilik itu.

"huft.. Hh.. Aku lelah hh, Yeoli ah. Kenapa hh kau terus mengejarku?!"

"hh haha.. Ne, nado. A hh aku hanya ingin dekat denganmu. Tidak boleh ya?" Jawab Chanyol kecil dengan polosnya.

"He? Tentu boleh. Tapi jangan mencubit pipiku seperti tadi ya.. Jika kau melakukannya aku akan berlari lagi."

"ah eung! hehe.."

...

"Kenapa kau akan pergi? Bagaimana kita bisa menikah jika kau pergi?" Chanyeol kecil menangis.

"Um.. Mollayo. Tapi Appa bilang kami hanya akan pergi sebentar. Kita kan tetap bisa menikah saat aku pulang nanti!"

"Yaksok?"

"Yaksok!" Mereka menautkan kelingking mereka.

...

~*~ 10 years latter ~*~ 

"Chanyeol ah!! Palli ireona! Ini sudah siang! Apa kau ingin terlambat, huh?!" Jia menggoyang-goyangkan tubuh Chanyeol yang masih terlihat nyaman di ranjangnya.
Ini sudah pukul 6 pagi. Mereka harus segera berangkat sekolah. Memang telah menjadi kebiasaan mereka untuk berangkat bersama ke sekolah sejak beberapa tahun lalu, sejak Jia menjadi tetangga baru Chanyeol.

"hoam.. Hhh" Chanyeol melengguh. Ia membuka matanya, dan yang pertama ia lihat adalah sepasang mata yeoja yang membulat sempurna menandakan ekspresi penekanan. "Jam berapa ini?" Tanya Chanyeol dengan santainya.

"Jam 7!" Tukas yeoja berambut kuncir kuda itu.

"Huwa!! Jinjjayeo?" Chanyeol spontan berlari menuju kamar mandi untuk bersiap-siap berangkat sekolah.
...

"Tadi kau bilang jam 7.." Keluh Chanyeol malas. Sahabatnya itu telah membohonginya. Ini baru pukul 6.09.

"ppffft.." Jia menahan tawanya. Ditambah kini Chanyeol muncul dengan aneh, sikat gigi yang ia gigit dan handuk yang ia kenakan dengan asal di kepalanya.

"Awas ya kau!" Umpat Chanyeol dan bersiap menerkam Jia.


~*~ 

@Another place.
Park Nana telah bersiap dengan seragam dan tas sekolahnya. Ini adalah hari pertamanya di sekolah barunya. Dan yang tidak boleh ia lewatkan adalah sarapan pagi.

"Joheun achim, Nona muda.." Bibi Lee menyapa Nana.

"Ne, joheun achim, Lee ahjuma. Mau sarapan bersama?" Tawar Nana.

"Ah..tidak terimakasih, nona muda. Saya masih memiliki pekerjaan lain."

"Ah.. Baiklah.."
Nana duduk sendiri di ruang makan dan memakan sendiri sarapannya, pancake sirup mapel dan segelas susu hangat.

"Kau egois dan tidak pernah mau mengerti perasaanku!!" Teriak seseorang.

"Kenapa kau berbicara seperti itu seolah kau tidak bersalah, huh? Kau fikir aku tidak pernah memikirkanmu dan Nana?!" Timpal seseorang lainnya denga suara yang sangat berat.
Kini kita tahu kenapa Nana hanya seorang diri di meja makannya. Ya, kedua orang tuanya sedang sibuk dengan urusan mereka.
Nana mendengat semuanya. Ia menggantungkan sendoknya di udara dan menghela nafas panjang, lalu meneguk susu hangatnya. Ia meletakan kembali sendoknya dan mengurungkan niatnya untuk makan. Ia bergegas mengambil tas, beberapa buku, lalu bangkit untuk berangkat sekolah.

"Chagiya.."
Nana menoleh, dan itu adalah appanya yang tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ini hari pertamamu sekolah. Biar appa mengantarmu. Kajja." Appa Nana merangkul bahunya untuk berangkat bersama.

"Aniyo. Tidak perlu appa." Tolak Nana.

"Benarkah?"
Nana mengangguk.

"Baiklah.." Appa Nana mengusap rambutnya. "Kalau begitu ini untuk naik bus." Appa Nana memberinya sejumlah uang.

"Gomawo. Aku berangkat Appa."

"Chagiya, tidak ingin berpamitan pada eomma?" Eomma Nana menghampiri Nana. Matanya sembab, tapi ia masih mengusahakan sebuah senyuman untuk Nana, juga berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. "Ini, untuk tambahan uang sakumu. Eomma pernah seusiamu dan eomma tau bagaimana menggiyurkannya dress-dress di mall itu. Hihi.." Eomma Nana berceloteh dan mencolek ujung hidung Nana.

"Eum. Aku berangkat eomma." Pamit Nana. Tak lupa ia dibekali sebuah kecupan dari eommanya.

'cklek' Nana menutup pintu rumahnya.

"Apa yang kau lakukan?! Ingin merayu Nana? Huh"

"Kya! Aku tidak seburuk yang kau fikir! Nana akan ikut bersamaku!"

Meski pintu telah tertutup, samar-samar Nana masih bisa mendengar perkelahian kedua orang tuanya.
Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sejumlah uang yang baru saja ia terima. "Gomawo." Ucapnya sembari membuang semua uang itu kedalam pot bunga besar di depan rumahnya. Ia mengusap air matanya, kemudian berangkat sekolah, juga berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

*Park Nana P.O.V
"Payah. Kenapa aku membuangnya dan tidak menyisakan sedikitpun untuk naik bis?" Aku menyesal telah membuang semua uang saku ku hari ini. Terpaksa aku harus berjalan kaki ke sekolah.
Ini adalah hari pertamaku bersekolah, aku baru kembali ke Korea beberapa hari yang lalu, dan mendaftar di sekolah ternama di sini. Jika aku terlambat dan gerbang sekolah telah di kunci, tak apa, mungkin untuk pertama kalinya dalam seumur hidup aku bisa membolos.

'Did did..'
Suara klakson terdengar nyaring di belakangku. Tapi ku kira aku sudah berjalan di tempat yang semestinya.

"Ya! Chamkaman!" Seru pengendara motor itu. Ku rasa ia sedang berbicara padaku.

"Aku?" Tanyaku.

"Ne. Seragam sekolah yang sama. Apa kau siswi SOPA?" Tanyanya.

"Ne."

"Kita satu sekolah. Ini sudah siang. Apa kau yakin akan berjalan kaki hingga ke sekolah? Padahal sekolah masih cukup jauh."

"Benarkah? Entahlah ini hari pertamaku sekolah."

"Ah.. Jadi kau siswi baru? Pantas saja kau tida mengenalku. Baiklah.. Naiklah." Ajaknya.

"Eung. Maaf merepotkan." Aku menerima ajakannya untuk berangkat bersama.

"Pegangan yang erat kita akan meluncur!" Ujarnya lalu melajukan motornya dengan sangat cepat.
Jujur saja, ini kali pertama aku mengendarai motor dengan kecepatan seperti ini, tapi apa boleh buat? Aku sudah cukup merepotkan dengan menumpang padanya. Tidak enak jika aku harus mengganggunya dengan protesku.

...

Akhirnya tiba di sekolah. Tempat parkir tepatnya. Aku turun dan kakiku rasanya gemetar juga lemas. Aku benar-benar masih merasakan sensasi meluncur dengan cepat seperti naik motor barusan. Aku memijat-mijat sendiri pahaku.

"Waeyo?" Tanya namja ini setelah ia melepas helm nya.
Eh, wajahnya.. neomu gwiyowo! Seolah ia bukan pengendara motor yang mengemudi dengan menyeramkan seperti tadi.
"Waeyo?" Tanyanya lagi.

"He? Hh gwaenchana. A aku.. Ini pertama kalinya aku naik motor dengan kecepatan seperti tadi." Jujurku.

"Jinjjayo? Neomu gwiyowo.. Kenapa kau tidak protes sejak awal?" Ia mencubit pipiku.
Aish..
"Aku Baekhyun, 2 Musik 3. Apa kita sekelas?" Lanjutnya.

"Ani, kemarin aku berbicara dengan kepala sekolah. Beliau bilang aku akan duduk di kelas 2 Musik 2."

"Aish.. Sayang sekali. Hajiman, kajja. Biar ku antar kau sampai kelasmu. Kau belum mengenal sekolah ini kan?"

"eum.." Aku mengangguk.
Permulaan yang baik. Aku cukup beruntung bertemu dengan Baekhyun hari ini.
Sepanjang koridor Baekhyun banyak bercerita tentang peraturan sekolah dan hal lainnya. Ia sangat ramah.

"Dan ini kelasmu." Ucap Baekhyun.

"ah.. Ne, gomapseumnida."

"Cheonmana." Balas Baekhyun.
Aku hanya tersenyum dan masuk kelas.
"Chankaman.." Sela Baekhyun. "Kau belum memberitahuku siapa namamu?"

"Aish.. Aku lupa. Nana imnida, Park Nana."
*Park Nana P.O.V End

"... Nana imnida, Park Nana."
Telinga Chanyeol menangkap sepenggal percakapan itu. Ia menoleh ke arah suara, dan mendapati seorang siswi asing yang berdiri di depan kelasnya.

"Kenapa soal seperti ini kau masih saja salah mengerjakannya? Harusnya eump-" Kata-kata Jia terpotong saat Chanyeol meletakan jarinya di bibir Jia.

"Siapa dia?" Tanya Chanyeol tanpa berhenti memandangi siswi baru dihadapannya.

"Ish.." Jia menepis jari Chanyeol, "Mana? Eh? Entahlah.." Jia juga tidak mengenalnya.
Lalu Chanyeol menyadari bahwa siswi baru itu sedang kebingungan mencari kursi yang mungkin bisa ia duduki.

"Pergilah dulu." Usir Chanyeol pada Jia.

"Mwo?"

"Ish.. Ku bilang pergilah dulu. Biarkan siswi baru itu duduk disini." Chanyeol memperjelas kalimatnya.

"Ish.. Aku sudah hafal gelagatmu." Sindir Jia sebelum ia meninggalkan kursinya.

"Annyeong! Apa kau siswi baru? Park Chanyeol imnida." Chanyeol menghampiri siswi baru itu.

"Annyeong. Ne. Park Nana imnida." Nana menyambut uluran tangan Chanyeol.

"Apa kau sedang mencari kursi kosong? Kau bisa duduk di sampingku." Tawar Chanyeol.

"Benarkah?"

"Tentu. Mari."

"Gomapseumnida.." Ujar Nana.

...

Hari-hari berlalu. Perkenalan singkat itu membawa Chanyeol dan Nana kedalam kedekatan yang semakin baik. Mereka sering kali belajar bersama dan makan bersama saat jam istirahat. Tidak hanya berdua. Jangan lupakan Jia yang memang sudah terlebih dahulu terbiasa bersama Chanyeol. Mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama. Chanyeol selalu bersikap manis pada Nana, tapi pada saat yang bersamaan, ia bisa berubah menjadi penuh lelucon saat menoleh pada Jia. Bisa dikatakan itu adalah hari-hari yang manis bagi Chanyeol dan Nana, sekaligus juga hari-hari yang menyenangkan bagi Chanyeol dan Jia. Dan itu adalah hari-hari yang berkesan bagi Nana dan Jia.
Tapi anehnya, jika belajar bersama di luar sekolah, Jia selalu absen dan membuat Chanyeol hanya bisa belajar bersama Nana.

...

-TBC-

Dan part ini pun TBC dengan tidak indahnya. Terimakasih banyak sudah membaca! ^_^Apa terlalu pendek? Ya. sesuai sub-judul-nya(?) "Anyyeong!" Part 1 ini memang hanya ingin memperkenalkan situasi awal dan perkenalan tokoh utama dengan tokoh lainnya. Dan untuk part 2 rencanya akan lebih panjang dan membahas keseharian mereka. Sampai jumpa di part 2! Pai pai~**Ssstt... Bocoran, part 2 nanti akan ada bumbu romancenya!
Readmore → Soulmate Part 1 (Annyeong!)