Thursday, January 29, 2015

Tugas Membuat Puisi

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
 
               Udah lama banget gak ngepost.. :( But now i'm back..!! :D (GAK ADA YANG NUNGGUIN JUGA! :p).
Sekarang mau bawa puisi-puisi yang dulu di bikin buat tugas bahasa Indonesia waktu kelas 11. Udah cukup lama juga sih.. makanya sekarang pas di baca-baca lagi serasa mau ketawa-ketawa sendiri bacanya! Kkk~
Sebagian besar puisinya di bikin tangga 16 februari 2014, sisanya dapet nemu dari coretan-coretan abstrak di halaman paling belakang buku-buku sekolah. Ya... gitu deh kalo lagi jam kosong di kelas! Kerjaanya coret-coretin buku gak jelas! Haha..
Langsung aja, check these out! :) (BAGUS JUGA ENGGAK!).


SEMAI RANDA TAPAK
 


Aku bagai setangkai randa tapak
Diantara ribuan lainnya
Kecil, rapuh

Aku bisa terhempas sewaktu-waktu
Tersemai,
Terlepas genggamanku

Gugur,
Diterbangkan angin
Membuka mataku tentang warna hidup lain di perjalananku

Terhempas,
Di tiup angin
Mmebuka fikiranku tentang adakah arti hidupku?

Tersemai,
Saat hempasan itu selesai menjatuhkanku
Dimanapun itu,
Inilah yang ku pilih

Tersemai, tak untuk mati
Jatuh, bukan untuk berakhir
Untuk tumbuh lagi
Meski hempasan itu mungkin datang lagi



Teko-Teko Pekat




Teko-teko pekat bergelantungan di sela mega
Orange senja tersamar abu-abu mendung
Sepotong matahari tersisa di barat
Hingga habis tenggelam bersembunyi

Teko-teko pekat menuangkan airnya
Senada dengan hembusan angin yang berdesis
Selamat malam, bisiknya
Titik-titik gemerlap tak terlihat menghias langit
Hanya ada gumpalan besar
Bak bongkahan es kaca pantulan

Teko pekat diatas meja
Teh hangat dan sepotong biskuit menjadi menu utamanya

Teko-teko pekat menganak sungai
Membasahi tilam suci
Air tulus dari kepercayaan dan ketakutan
Penyesalan dan kesadaran
Penuh terimakasih

Teko-teko pekat tak lagi terlihat
Terganti fajar tak lagi bersembunyi
Rintik air terpola di jendela
Entah embun atau jejak hujan semalam

Teko pekat di atas meja
Kopi hangat menunya
Dengan aroma yang manis
Selamat pagi, bisiknya

Setia
 

Aku akan tetap seperti ini
Tak peduli akankah detik memberi kita waktu
Tak peduli akankah jarak memberi kita tempat
Aku akan tetap seperti ini


Mengemis Harap
 

Kaki telanjang di aspal tajam
Keringat bercucuran diantara asap kendaraan
Tangan menengadah mengharap belas kasihan
Penuh hara mulia dalam kehinaan

Berharap esok yang lebih mulia untuk anak-anaknya
Berharap esok yang lebih halu untuk istrinya
Berharap esok yang lebih kenyang untuk keluarganya



Tahukah Kau?
 

Tahukah kau?
Saat kupu-kupu
Dengan sayap patah nan kurus
Mati kelaparan

Saat bunga-bunga 
Di tanah tandus 
Mati kekeringan

Saat itulah aku,
Hatiku,
Mati merindumu

Tahukah kau?
Saat matahari timur 
Hingga hinggap ke barat
Aku menunggumu seakan sekarat

Tahukah kau?
Saat rembulan bersinar
Hingga berganti fajar

Saat itu aku masih menanti
Berharap rasa ini terpenuhi

Tahukah kau?
Aku menyayangimu


Taubat

 

Di keheningan malam
Tetesan air mata
Mengalir di hidung
Membasah dalam sujud
Atas diri hina yang penuh dosa
Hati yang penuh noda
Jiwa yang ternyata hampa

Dikeheningan malam
Air mata menjerit
Kedua tangan terangkat meminta
Untuk sekali lagi
Memohon ampun
Atas diri hina yang penuh dosa
Hati yang penuh noda
Jiwa yang ternyata hampa


That's all! :)
Kapan-kapan mau ngepost kaidah puisinya deh! ^_^
Annyeong~ Thanks alot for reading.. :)
*Yang udah baca, comment please! :)

No comments:

Post a Comment