Wednesday, October 19, 2016

A Little Story Of Algia And Nost

A Little Story Of Algia And Nost

Untuk bertemu denganmu saja aku harus menunggu hingga kau bernostalgia. Apa aku benar-benar bukan bagian dari masamu lagi? 
Tapi aku selalu menjadi merah setelah hitammu.

"Hai! Lama tidak bertemu. Apa kabar?" | "Kabar baik. Bagaimana dengan keadaanmu?" | "Keadaanku masih sama. Tak ada yang memedulikannya." | "Tidak, aku peduli." | "Mereka bahkan tak menganggapku ada." | "Tidak, aku percaya kau ada." | "Lalu kenapa kau tidak pernah menemuiku lagi?" | "Anu, hanya saja akhir-akhir ini aku tak memiliki cukup waktu untuk bernostalgia." | "Ku bilang kau sama saja dengan mereka." | "Tidak, aku berbeda." | "Tidak, aku lah yang berbeda. Kita tak semasa." | Tidak, kita tetap semasa jika aku bernostalgia." | "Tidak lagi sejak kau bahkan tak memiliki cukup waktu untuk bernostalgia." | "Tidak, kita tetap sama jika saja kau mau untuk tetap tinggal." | "Jika saja aku bisa." |

Putaran piringan hitam pada gramophone telah berhenti. Seiring dengan hadirnya kesunyian, aku menghilang bersama melodi yang tak lagi terdengar.

NOSTALGIA
19 Oktober 2016

No comments:

Post a Comment