Showing posts with label ff. Show all posts
Showing posts with label ff. Show all posts

Wednesday, August 3, 2016

My Lovely Partner

My Lovely Partner



|| a story by Ly @Lia_YH ||

|| Length : One Shoot ||

|| Rating : PG-15 ||

|| Genre : Mystery, Schoo Life, Romance, Friendship ||

|| Main Cast : Park Nana (OC), Byun BaekHyun EXO, Kim JongDae EXO ||

|| Special Cameo : Jin BTS ||

**
Akhirnya ff yang sudah lumutan nangkring di draft ini di publish jugaaa. Ff ini ditulis sekitar awal tahun 2015. Dan kenapa baru di publish? Gak ada alasan lain selain authornya malu sama tulisannya yang malu-maluin ini. Heu -,-
Tapi semalu-maluinnya tulisan ini, however, this story was flowing purely from my own imajintion. Diharap tidak meng-copy semua atau sebagian tulisan ini tanpa cr yang jelas, ya. ;)
Happy Reading! :)
**
.
.
.
.

'Drrrt' Getaran handphone terdengar nyaring di kamar sepi yang pemiliknya masih tertidur manis di ranjang pink berpola polkadot warna-warni itu. Diraihnya handphone yang telah cukup lama bergetar. "Ne, yeboseyo.. Nugusijyeo?" Jawabnya lesu. Mungkin nyawanya belum terkumpul semua.

"Ne, yeobosaeyo Nana-ssi. Naega JeongDae-ieyeo."

"He? Ne, Sunbaenim?" Dengan mendengar nama JeongDae seolah sebuah desiran angin kencang mengumpulkan seluruh nyawanya dan menghilangkan lesunya.

"Aku ingin memberitahu mu, aku sedang bersama Jin, bendahara dari music club. Kemarin malam ia kehilangan uang kas yang ia simpan dalam brankas di ruang music. Bisa kah kau datang ke rumahku sekarang juga?" Tutur JeongDae.

"Aish.. Kenapa ia baru melapor sekarang? Ne, Sunbaenim. Aku akan segera berangkat."

Setelah sambungan terputus Nana segera berlari menyambar handuknya dan melakukan mandi kilat secepat yang ia bisa. Lalu ia segera membungkus dirinya dengan tanktop putih dan kemeja jingga lengan panjang yang ia gulung dan tak menggunakan kancingnya dengan benar, sebuah rok berwarna pastel sebatas lutut, sneaker putih kesayangannya, dan tak ia tinggalkan tas kecilnya.
Ini masih sangat pagi, Nana hanya menengguk segelas susu yang sudah tersaji di atas meja dan segera berangkat menuju rumah JeongDae.

@JeongDae's room.
"Maaf merepotkan. Tapi aku sudah benar-benar kehabisan akal memikirkan kemana uang itu pergi." Ucap Jin.

"Ne, gwaencahana. Kami akan berusaha membantu." Jawab JeongDae lembut. Ia adalah seorang ketua detective club sekolah menengah yang sangat ramah dan baik kepada siapapun. Ia akan selalu berusaha menolong siapapun yang datang kepadanya. Itulah yang membuat Nana nyaman bertahan dalam club meski 99% anggota mereka telah mengundurkan diri dan hanya menyisakan mereka berdua dalam detective club nya.

"Uang itu benar-benar hilang atau.. Maksudku, berapa jumlah uang yang hilang itu? Dan bukankah disana ada kamera pengintai?" Selidik Nana.

"₩5,563,700,. Aku selalu mencatat semua pengeluaran dan pemasukan kas dengan rapi tanpa pernah ku tunda-tunda agar aku tidak lupa. Tapi malam itu aku pergi menyimpan uang pemasukan ke dalam brankas, dan brankas itu sudah benar-benar kosong. Dan sepertinya kamera pengintai itu telah di sabotase oleh pelakunya."

"Siapa saja yang mengetahui kode brankas itu?" Tanya Nana lagi.

"Jin sendiri, BaekHyun ketua music club, dan JiEun sekretaris music club." Jawab JeongDae yang telah lebih dahulu mengorek informasi ini. "Aku dan Jin telah memeriksa brankas itu tadi. Dan aku menemukan ini." JeongDae menunjukan rekaman kamera pengintai di ruang musik dan sebuah plastik kliper berisi pin keanggotaan music club berbentuk not balok yang biasa mereka kenakan di lengan kanan seragam sekolah mereka.

"Ini.. Pin keanggotaan kalian?" Tanya Nana memastikan.

"Eum." Jin mengangguk.

Kemudian mereka memutar rekaman yang menunjukan kegiatan tak mencurigakan di ruangan musik, hingga sebagian rekaman pada malam harinya hilang selama beberapa waktu. Hanya terlihat titik-titik yang bergerak tak beraturan dan suara desisan, persis televisi yang kehilangan signal. Sepertinya seseorang telah melakukan sabotase pada kamera pengintai. Lalu rekaman kembali menyala dan menunjukan Jin yang memasuki ruangan musik untuk memeriksa brankas dan sangat terkejut ketika mendapati brankas dalam keadaan kosong.

"Sipal! Rekaman itu hilang pada saat yang tepat! Dan membuat kita tidak bisa melihat pelakunya!" Umpat Jin.

"Ne. Pasti pelaku telah mensabotase kamera pengintai sebelum melancarkan aksinya." Yakin JeongDae.

"Ku rasa haruslah seseorang yang mengenal betul ruangan musik untuk melakukan sabotase itu. Apa kita harus menunggu hingga besok untuk melihat siapa dari anggota music club yang kehilangan pin keanggotaan mereka?" Usul Nana.

"Geurae." JeongDae mengangguk. "Tapi aku telah mendapatkan merek parfume yang melekat pada pin ini. Creed, parfum kelas tinggi dari Olivier Creed. Dulunya merupakan andalan kerajaan Inggris yang di buat secara manual dengan tangan, tanpa menggunakan mesin. Biasanya digunakan oleh sosialita wanita maupun pria." Lanjut JeongDae.

"Jin-ssi, apa kau tahu siapa yang memiliki parfume seperti itu?" Tanya Nana.

"Molla. Aku tidak memiliki parfume seperti itu. BaekHyun hyung yang juga mengetahui kode brankas sepertinya tidak memiliki parfume seperti itu. Tapi aku tidak tahu dengan JiEun, ia selalu terlihat elegan dengan semua yang ia kenakan." Papar Jin.

'Jin benar, namja sederhana seperti Baekhyun cenderung tidak memiliki minat untuk membeli parfume semahal itu.' Fikir Nana.

"Tapi kita tidak boleh berfikiran sempit dengan hanya mencurigai kedua orang itu. Meski selain Jin hanya mereka berdua (BaekHyun dan JiEun) yang mengetahui kode brankas itu, tapi diluaran sana juga masih banyak orang yang memiliki akses memasuki ruangan music." Nasihat JeongDae.

...
Keesokan harinya di sekolah.
"Bagaimana?" Sambut JeongDae ketika Jin duduk di kursi kantin dihadapannya dan Nana.

"Ne, aku telah melihat seseorang yang tidak memakai pin keanggotaanya." Lapor Jin gugup.

"Nugu?" Tanya Nana dan JeongDae.

"Ketua Baekhyun." Lanjut Jin lalu menutup matanya dengan berat, pertanda rasa kecewa terhadap ketua yang selalu ia banggakan tersebut. "Sehari sebelum malam itu, Baekhyun hyung mengeluh padaku tentang guitarnya yang rusak dan ingin ia gantikan dengan guitar baru. Tapi ia juga mengeluhkan orang tuanya yang tak mau membelikannya guitar baru." Ungkap Jin.

"Baiklah, Nana. Itu tugasmu. Kau, carilah sebanyak mungkin informasi mengenai kemana Baekhyun pada malam saat kejadian itu dan juga bukti-bukti lain yang menunjukan ia pelakunya. Jika ia memang pelakunya, ini akan menjadi tugas mudah bagimu. Tapi jika ia bukan pelakunya, segeralah mengabariku." Titah JeongDae.

"Dan sebenarnya.. Sore sebelum malam itu aku melihat seseorang seperti mengendap masuk ke ruangan musik. Tapi saat aku periksa, disana tidak ada siapa2." Tambah Jin lagi.

"Baiklah, yang ini tugasku." Ucap JeongDae.

..
Jam pelajaran sore ini telah berakhir. Dan disanalah mereka berdua, Nana dan JongDae, memisahkan diri dibawah pohon maple di sisi kanan sekolah, tampaknya sedang membicarakan hal yang cukup penting.
"Aku telah membuat janji untuk belajar bersama BaekHyun sunbaenim sore ini di rumahnya. Aku berpura-pura meminta bantuannya untuk menyelesaikan tugas musik." Lapor Nana.

"Baik. Kerjakanlah dengan benar. Dan ingatlah, selama kasus ini belum menemukan titik terang, jangan percayai siapapun." 

"Arraseo, Sunbaenim." Nana mengangguk tanda menerima instruksi dari ketuanya.

"Gadis pintar.." JeongDae mengusap pucuk kepala Nana. Dan blush.. Wajah Nana merona seketika.

...

Kali ini Nana tampak berbeda dengan summer dress pink berpola bunga yang ia kenakan. Jika saja ia bukan yeoja kelas 1 SMU yang menenteng sejumlah buku ditangannya, ia pasti akan terlihat sexy dengan penampilan musim panasnya ini. Tampilannya itu ia padukan dengan sepatu flat, bando berbentuk telinga kucing yang simple, dan tas selempang kecil yang melengkapi penampilan manisnya.

Nana berdiri tertegun di depan sebuah pintu besar pada rumah dengan eksterior mewah dan bernuansa Eropa nan anggun itu. Ia mengecek sekali lagi secarik kertas alamat yang BaekHyun berikan padanya tadi siang di sekolah. "Apa benar ini rumahnya?" Gumam Nana takjub. Pasalnya, Baekhyun yang ia tahu bukanlah tipe namja yang sering berganti-ganti sepatu dan mobil ke sekolah seperti yang diakukan para siswa kaya lainnya. Sekilas Nana pun berfikir bahwa Baekhyun yang memiliki rumah sehebat ini tidak mungkin mengambil uang dari brankas music club. Tapi kemudian ia teringat pesan JeongDae untuk tidak mempercayai siapapun sebelum ia menemukan titik terang dalam kasus ini.

Tak lama, seorang wanita paru baya datang membukakan pintu, padahal Nana belum sedikitpun mengetuk pintu itu. "Ah.. Rumah sebesar ini pasti memiliki alat pendeteksi datangnya tamu. Kkk.." Fikir Nana mencoba sedikit menghibur dirinya sendiri yang sedang berada dalam misi penyelidikan.

"Selamat sore.. Tuan muda telah menunggu agashi di kamarnya." Sambut wanita paru baya yang baru saja membukakan pintu.

"..." Nana menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan bahwa wanita itu tidak salah orang.

"Ya. Jika Agashi ini bernama Park Nana, maka tuan muda Byun BaekHyun telah menunggu agashi di kamarnya untuk belajar bersama." Wanita itu mengulang penjelasannya.

Kali ini Nana yakin bahwa wanita itu tidak salah. Nana pun mengikuti wanita paru baya itu menuju kamar di lantai dua yang katanya adalah kamar BaekHyun.

Nana menata buku-buku yang ia bawa di atas karpet di samping bawah tempat tidur Baekhyun. Tapi kemana namja itu? Fikir Nana. Nana menggunakan waktu kosong ini untuk memeriksa isi kamar Baekhyun.

Terpampang beberapa lukisan karya maestro terkenal dunia menghiasi dinding kamar Baekhyun. Ternyata ia memiliki selera yang tinggi. Fikir Nana kemudian. Apa yang ia lihat telah merubah fikirannya terhadap Baekhyun yang selama ini terkenal sebagai Namja sederhana di sekolah.

Tapi bukan lukisan-lukisan itu bagian pentingnya. Nana melihat beberapa guitar bersender di dinding, dan sebuah guitar yang tampak berbeda dengan yang lainnya. Pasti itu guitar rusak yang di maksud Jin. Fikir Nana. Dilihatnya lagi sebuah guitar yang masih terbungkus rapi, tampaknya guitar Cole Clark Angel itu baru saja dibeli BaekHyun, barcodenya saja masih tergantung dan menunjukkan harga yang fantastis pada guitar itu. Fikir Nana lagi.

Kemudian matanya tertuju pada sebuah nakas di samping cermin besar. Disana terdapat beberapa botol parfume dengan bermacam warna. "Hn. Flamboyan." Desis Nana sebelum ia mencoba mencocokannya dengan merk parfume yang ditemukan JeongDae, namun tidak sempat. Baru saja Nana hendak bangkit dari karpet, "Park Nana-ssi, itukah kau?" Sebuah suara mencegahnya.
Nana menoleh ke arah pintu toilet, tempat orang yang baru saja berbicara itu berdiri.

Tampak Baekhyun yang baru keluar dari toilet hanya mengenakan celana training dan sebuah handuk yang ia gunakan untuk mengacak-acak rambutnya yang basah. Kegiatannya membuat beberapa tetesan air dari rambutnya jatuh dan mengalir di dada lalu perutnya. Dan itu benar-benar telah membuat Nana malu melihatnya.

"Ah.. Annyeonghaseyo. Aku tak tahu kau akan datang seawal ini. Aku benar-benar belum melakukan persiapan apapun." Keluh Baekhyun lalu menuju ke tempat Nana.

Nana segera bangkit, "Baiklah, silahkan kau bersiap-siap dulu, Sunbaenim. Aku akan menunggumu diluar." Kata Nana kikuk.

"Tidak perlu." Baekhyun masih meneruskan langkahnya mendekati Nana. Kali ini sebuah seringaian tak terartikan terukir di bibir baekhyun. Nana berjalan mundur tanpa arah dan berusaha menghindari Baekhyun. Namun sesuatu dibelakangnya telah memutuskan jalan dan menghentikan langkahnya. "Lebih baik kita langsung mengerjakan tugasmu saja. Karena pasti akan membutuhkan waktu yang lama jika kau harus menungguku bersiap-siap. Tahu tidak, aku selalu siap untuk membantumu." Bisik Baekhyun misterius saat Nana terhimpit diantara tubuh Baekhyun dan lemari besar di belakangnya.

Nana benar-benar lemas dan ketakutan. Bahkan ia terlalu takut untuk hanya sekedar mengangkat kepala dan membuka matanya atau bertanya -Apa yang akan kau lakukan?-.

"Bahahahahahaha... Wajahmu begitu menggemaskan seperti anak kecil saat ketakutan seperti ini." Tawa Baekhyun meledak seketika. "Ppffft.. Mianhae, Nana Ya! Suasana aneh ini membangkitkan otak jahilku. Ppffft."

"MWO?" Kali ini Nana berani mengatakan sesuatu. Didalam sana ada rasa lega dari kecemasan kehilangan sesuatu yang berharga saat ini juga. Gadis konyol.

"Keurondae, kau menghalangi lemari pakaianku. Apa kau lebih senang melihatku seperti ini? Hm? Tapi aku benar2 kedinginan." Goda Baekhyun lagi.

Nana yang baru menyadarinya segera menyingkir agar memberi akses pada Baekhyun untuk mengambil pakiannya didalam lemari. Kemudian Nana segera berlari menuju karpet dengan batin yang memaki sikap memalukannya barusan. Sementara Baekhyun masih asyik menahan tawanya.

Nana duduk dan membuka lembaran bukunya. Hanya dibuka saja, karena sebenarnya bola matanya menyudut memerhatikan gelagat targetnya yang berdiri beberapa jarak darinya. Nana melihat Baekhyun kini sedang mengambil sebuah kaos putih lengan panjang,  kemudian menyemprotkan parfume pada tubuhnya sebelum ia memakai bajunya. Nana mengamati merk parfume itu, tapi tak terlihat jelas.

Baekhyun akhirnya menyadari bahwa Nana sedang memperhatiknnya. Baekhyun pun menoleh, dan seketika itu juga Nana membuang muka. BaekHyun hanya tersenyum kecil.

Baekhyun duduk disamping Nana dan hanya menyematkan kaos putihnya di bahunya.
"khm.. Mian, sunbaenim.. Parfume apa yang kau kenakan itu?" Tanya Nana ragu. Ia tak yakin ia menanyakan hal semisal ini pada seorang namja. 'Jika bukan karena tuntutan tugas pun aku tidak akan mau menanyakannya.' Batin Nana.

"Wae? Kau menyukai parfume itu?" tanya Baekhyun, kemudian menarik pinggang Nana untuk duduk lebih dekat disampingnya. "Kau bisa duduk di dekatku jika kau menyukai bauku." Lanjut Baekhyun kemudian. Sepertinya ia benar-benar menikmati untuk menggoda Nana.

Baekhyun menahan pinggang Nana dengan erat dan membuat lengan gadis itu menempel disamping rangkulannya. Beberapa tetesan air dari rambutnya yang basah turun ditelinga Nana. Untuk sesaat otak Nana melambat untuk mencerna situasi. Hingga ia tersadar, 'Kerjakanlah tugasmu dengan benar.' Terlintas perintah JeongDae ditelinganya. Nana segera menenangkan dirinya. 'Aku perlu otak yang jernih untuk melakukan tugas ini.' Tekad Nana.

"Kya! Berhentilah menggodaku seperti ini, sunbaenim! Jangan menganggapku seperti anak kecil." Protes Nana.

"He? Ternyata yeoja ini bisa melawan juga? Pffft.." Goda Baekhyun lagi, dan lagi.

'Hwaa.. JongDae Sunbaenim.. Ini bukan tugas yang mudah..' Keluh Nana dalam hati.
"Cepat pakai bajumu dan bantu aku mengerjakan tugas musik ini." Cibir Nana yang mulai kesal dengan ulah targetnya ini.

Baekhyun pun menurut dan memakai pakaiannya, tapi kemudian, ia malah naik ke atas ranjangnya, menyenderkan tubuhnya ke kepala ranjang, dan menopang kepalanya dengan kedua tangannya.

'Cih.. Lihatlah tingkah sombongnya di luar sekolah!' Umpat Nana, tentu tak ia lontarkan dari mulutnya dan lagi-lagi hanya berkelumit dalam hati saja.

"Ani, berhentilah berpura-pura. Jika kau mau, aku bisa menjadi partner dalam tugasmu yang lain." Kata Baekhyun angkuh.

Nana tertegun sesaat. 'Apa maksudnya 'dalam tugasmu yang lain'? Apa Baekhyun sunbaenim telah mengetahui motif utama kedatanganku ke rumahnya? Atau ia hanya sedang menggodaku lagi?' Nana khawatir.

"Kali ini aku serius. Jika kau tidak mau, ya sudahlah.. Kau bisa pulang sekarang juga." Lanjut Baekhyun kemudian.
Nana membulatkan matanya, ia terkejut dengan pengusiran yang baru saja ia terima.

Akhirnya Nana menoleh. "Apa maksudmu, sunbaenim? Aku hanya perlu kau membantuku menyelesaikan tugas musik ini." Nana masih mempertahankan aktingnya meski ia curiga bahwa Baekhyun telah mengetahui strateginya.

"Aish.. Sudah ku bilang berhentilah berpura-pura. Dan kemarilah jika kau ingin tugasmu terselesaikan dengan cepat." Baekhyun menepuk2 pinggiran ranjang disampingnya untuk mengisyaratkan bahwa Nana harus duduk disana.

Pertahanan Nana melemah, ia benar-benar penasaran dengan apa yang dikatakan Baekhyun.
Nana duduk disamping Baekhyun. Dan tanpa aba-aba, Baekhyun menarik tubuh Nana kedalam pelukannya dan membenamkan kepala Nana didadanya.

Nana mengerjapkan matanya sesaat, lalu "Kya!! A apa yang kau lakukan?!" Tentu Nana tak tinggal diam. Ia berontak dengan teriakan gugup dan pukulan-pukulan kecil dari tangannya yang terbatasi ruang geraknya oleh pelukan Baekhyun. Tapi tendangan-tendangan Nana benar-benar menganggu Baekhyun.

"Ya.. Ya.. Ya.. Berhentilah memukul dan menendang! Tenanglah. Bukankah kau perlu otak yang jernih untuk melakukan tugasmu." Ucap Baekhyun. Dan itu berhasil membuat Nana berhenti memukul.

'Siapa sebenarnya namja dihadapanku ini? ' Fikir Nana.

"Eottae? Apa aku tercium seperti Creed dari Kerajaan Inggris?" Tanya Baekhyun kemudian. Dengan menyebutkan merk yang sama dengan parfume yang disebutkan JeongDae.

"N.. Ne." Jawab Nana kaget.

@Another place.
Sementara itu, JongDae mengajak Jin ke ruang music untuk menuntaskan kasus ini.
"Aish.. Kenapa Nana belum juga menghubungiku? Ini sudah malam." Desis JeongDae memandangi layar handphonenya. Sebenarnya ia memang tidak memiliki hak apapun untuk mengetahui apa yang Nana lakukan. Tapi jika saat mengerjakan tugas seperti ini, mereka harus selalu terhubung.

"Subaenim, lihatlah.. Sebuah jejak sepatu tertinggal di dekat brangkas. Sepertinya saat itu pelakunya bersembunyi disini." Jin menarik fokus JeongDae.

"Berhentilah Jin-ssi." Timpal JeongDae malas. Kali ini ia tak seperti biasanya. Ia lebih fokus pada layar handphonenya untuk menunggu Nana menghubunginya.
Sesaat kemudian JeongDae menyadari sikap buruknya pada Jin, "Mianhae, Jin-ssi. Tapi pencuri itu mencuri 2 malam yang lalu. Jadi yang kau lihat ini hanyalah jejak kaki biasa." Jelas JeongDae mencoba memecah kecanggungan.

"Ah.. Ne." Jawab Jin mengerti.

"Jin-ssi?"

"Eum?"

"Apa sore itu kau benar2 tidak melihat siapapun di dalam ruang musik?"

"Ani."

"Apa malam itu ada orang lain yang menemanimu memeriksa brankas?"

"Aniyo." Jawab Jin lagi.

"Siapa yang terakhir menemanimu disana, saat siang hari, mungkin."

"Ketua Baekhyun." Tegas Jin.

@Another place
Baekhyun membuka laci nakas di samping ranjangnya. "Lihatlah ini." Ia menunjukan banyak sekali pin keanggotaan music club di dalamnya.

"He?" Nana heran. Seharusnya ia tahu bahwa seorang ketua akan menyimpan banyak pin keanggotaan. "Lalu, kenapa kau tak memakainya ke sekolah?" Selidik Nana.

"Jin meminta yang sedang ku pakai. Jadi ku serahkan saja punyaku."

"Jin memintanya?" Selidik Nana lagi.

"Geurae. Miliknya hilang. Seharusnya kau tahu ke arah mana perbincangan ini akan menuju." Baekhyun tersenyum. Kali ini senyumannya cerah.

"Ne. Seorang ketua yang baik memang seharusnya mengetahui tingkah laku anggotanya. Jadi, menurutmu Jin pelakunya?" Kini Nana berfikiran lebih terbuka dan berhenti berpura-pura didepan Baekhyun.

"Fikirkan saja. Apa ia melaporkan kasus ini secara langsung setelah kejadian itu terjadi? Apa ia menyampaikan laporannya secara sekaligus atau berangsur-angsur dalam selang waktu?" Pertanyaan itu Baekhyun buat untuk mencoba meyakinkan Nana.

"Ne untuk keduanya." Nana menunduk lesu. Tapi pertanyaan -pernyataan- Baekhyun barusan tak cukup menjadi bukti.

"Ikutlah denganku. Akan ku tunjukan sesuatu."
Baekhyun mengajak Nana menuju meja belajarnya. Ia menyalakan komputernya dan menunjukan sesuatu yang cukup canggih. "Ini terhubung dengan semua handphone dan gadget para anggota music club melalui ip mereka. Maksudku aku tidak menguntit kehidupan pribadi mereka. Aku hanya memakai kata kunci music club untuk menyaring apa yang mereka lakukan dengan kata music club pada handphone mereka. Dan tak ku sangka ini berhasil." Tutur Baekhyun.

"Apa yang kau temukan?" Antusias Nana.

"Ip Jin dan seseorang entah siapa diluar sana yang membicarakan brankas music club." Baekhyun menzoom sebuah percakapan kecil disana.

"Jin-ssi?!" Kata Nana tak percaya.

"Mungkin ini mustahil bagimu mengingat bahwa Jin lah yang meminta bantuan kalian. Tapi kau harus ingat bagaimana caranya melapor." Ucap Baekhyun.

"Ia melaporkan dengan sangat terlambat. Ia juga memberikan informasi lainnya secara acak, tidak berurutan, dan tidak sekaligus. Seperti setiap saat selalu ada bukti baru. Tapi apa maksudnya melakukan ini?" Ingat Nana.

"Dalam kriminal, semua bisa saja terjadi. Tapi terkadang sisi kemanusiaan lebih penting daripada hukum. Aku tahu Jin melakukannya dengan terpaksa."

"Apa maksudmu? Ayo jelaskan di perjalanan. Bisakah kau mengantarku ke sekolah? JeongDae sunbae dan Jin sedang berada di ruang musik disana. Ayo berangkat sebelum Jin pergi!" Nana segera menarik lengan Baekhyun untuk lekas berangkat.

@Another place.
"Jadi, Baekhyun adalah orang terakhir yang menemanimu disini?" JeongDae meminta penjelasan.

"Eung." Jawab Jin singkat.

"Jadi, ku rasa aku tahu bagaimana pin keanggotaan itu bisa ada disini." JeongDae mengeluarkan sebuah cd kamera pengintai ruang music yg ia dapat dari Jin kemararin, lalu memasukkannya pada sebuah dvd dan memutarnya di monitor besar di ruang music.

"Duduklah." Lanjut JongDae menepuk kursi piano yang ia duduki yang masih tersisa sedikit tempat untuk berbagi dengan Jin. Dengan sedikit canggung, Jin duduk disamping JeongDae.

Rekaman terputar pada hari kejadian. JeongDae memegang remote controlnya.

"Kau bilang sore itu kau melihat ada seseorang yang masuk, lalu kau memeriksanya dan tak menemukan siapapun?"

".." Jin hanya mengangguk yakin.

"Dalam rekaman ini, sepanjang sore tidak ada kedua adegan itu.Tak ada yang menyelinap, dan kau tak memeriksa kedalam."

'glek' Jin keluh.

"Rekaman tiba-tiba mati di detik 20.54.18 aku ingat bagaimana kau mengatakan bahwa rekaman itu hilang pada saat yang tepat dan membuat kita tidak bisa melihat pelakunya. Tapi kau salah, Jin-ssi, itu bukan saat yang sangat tepat. Kita bisa melihat pelakunya disini." JeongDae tersenyum.

"Nu.. Nugu?" Jin tersentak.

"Rekaman kembali berlanjut di detik 20.56.09 hanya selang 1 menit 9 detik. Tak ada yang bisa mencuri dari sebuah brankas berkode pengaman dan melarikan diri dalam waktu secepat itu. Kecuali, pencuri itu mengetahui kode brankasnya dan ia tidak melarikan diri." JeongDae kembali tersenyum, kali ini senyum misterius. "Rekaman berlanjut pada adegan kau membuka brankas dan tampak frustasi saat kau melihat brankas dalam keadaan kosong. Kau membanting pintu brankas dan terlihat sangat resah. Tapi lihatlah ini.." 'Pliff'JeongDae menekan tombol pause. "Terlihat jelas, kau kehilangan pin keanggotaanmu, Jin-ssi." JeongDae kembali tersenyum seperti biasanya.

"a.. Aku.." Jin gelagapan.

"Seharusnya kau mengulang adegan dari saat kau memasuki pintu ruangan musik dan memeriksa kelengkapan barangmu untuk menghindari tertinggalnya barang bukti, hobae.." Seperti biasanya pula JeongDae berkata dengan lembut, namun terdengar seperti hukuman di telinga Jin.

"Ta.. Tapi, kau tahu sendiri parfume apa yang ada pada pin keanggotaan itu. Itu bukan milikku." Elak Jin.

"Ne. Aku tahu kau meminta pin Baekhyun dan menukarnya dengan pin mu yang tertinggal di brankas sebelum kau memutuskan untuk melaporkan ini padaku."

"Da.. Darimana kau tahu?"

"Baekhyun. Aku mendiskusikannya dengan ketua music club yang memang seharusnya tahu tentang sesuatu yang terjadi di clubnya. Hal janggal telah ku cium sejak awal saat kau tidak melaporkan ini pada ketuamu sendiri."

"A.. Aku.." Jin gelagapan.

'Brak!!' Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan music dengan kasar.

"Sunbaenim! Jin lah pelaku yang sebenarnya." Teriak Nana dari pintu.

"A.. Aku.." Jin hendak melarikan diri, namun 'brukk!' Ia terjatuh. JeongDae telah bertindak sejak awal,  ia memborgol lengannya sendiri dengan lengan Jin saat ia meminta Jin untuk duduk bersama di kursi piano tadi. "Mi.. Mianhae.." Jin menyerah.

...
Keesokan harinya.
JeongDae, Nana, dan Baekhyun sedang menghabiskan Ice cream siang hari mereka ditaman.  JeongDae mentraktir untuk meregangkan otot mereka yang bekerja cukup lelah tadi malam.

"Kelak jika kita telah dewasa, permasalahan akan lebih besar dari yang kita lihat ini. Jin hanya seorang anak yang menjadi korban pemaksaan keadaan atas kondisi ekonomi keluarganya. Aku menyesal tidak menyadari masalah ini sejak awal. Sebagai ketua seharusnya aku lebih memerhatikan anggota saat di club maupun di luar club." Eluh Baekhyun.

"Aniyo. Kau sudah sangat baik dengan membiarkan Jin tetap memiliki uang itu dan menggantinya dengan uangmu, sunbaenim. Bahkan kau menambahkan uang untuk pengobatan ibunya Jin. Itu adalah sikap ketua yang sangat baik menurutku. Dan kau benar, terkadang sisi kemanusiaan lebih penting dari hukum." Timpal Nana.

"Ah.. Jadi, menurutmu, Baekhyun adalah ketua terbaik?" JeongDae menunjukan ekspresi kecewanya.

"He? A.. Aku.. Aku hanya. .. Tapi kau juga adalah ketua yang sangat baik, JeongDae sunbaenim." Nana mencoba menenagkan JeongDae dengan senyuman manisnya.

"haha.." JeongDae dan Baekhyun tertawa.

"Tentu saja aku adalah ketua yang baik, yang membiarkan anggotaku lebih dekat dengan target pura-puranya selama penyelidikan!" Tukas JeongDae kemudian lalu kembali tertawa bersama Baekhyun.

"Eh?" Nana tersipu malu. Meski tidak mengerti dengan situasi saat ini, tapi Nana menyadari seperti JeongDae sedang berusaha membuat ia dekat dengan Baekhyun.

-Tamat-

Epilog.
Sehari sebelum penyelidikan.
"Jadi, Music club kehilangan uang di brankas dan bendahara Jin hanya melaporkan ini padamu tanpa memberitahuku?" Baekhyun tersontak kaget saat mengetahui hal ini dari JeongDae.

Ya,  JeongDae memutuskan untuk memberitahu Baekhyun tentang hal ini setelah ia tidak menemukan bukti atau sedikitpun tanda bahwa Baekhyun adalah pelakunya. Justru ia menyadari bahwa Jin memiliki sejumlah kejanggalan dalam hal ini.

"Ne. Dan saat ini, kau dan Jieun sedang menjadi perhatian Jin dan Nana. Entah siapa yang ingin Jin jadikan kambing hitam dalam kasus ini. Bahkan meski menemukan kejanggalan pada Jin, aku juga belum menemukan bukti kuat dan belum yakin bahwa ia pelakunya." Jawab JeongDae.

Keduanya berfikir.

"Aku akan membantu menyelesaikan kasus ini."

"Maksudmu?"

"Tenang saja, sepertinya ini akan menjadi mudah. Tapi, jangan beritahu Nana bahwa aku terlibat." Baekhyun tersenyum.

...

"Nana akan menyelidikimu besok sore. Apa kau tak keberatan?" Ucap JeongDae di layar handphone.

"Yak!"

"eh?"

"Maksudku, kenapa tidak menugaskannya sejak awal?" Baekhyun memang telah lama menaruh perhatian pada Nana, tapi ia terlalu segan.

"Hahaha..." Keduanya tertawa.

.
.
.
.


**Glek. Uhuk-nerd-uhuk. -,-
Terimakasih telah menyempatkan membaca sampai akhir dan telah bertahan dengan segala lika liku kalimat rancu dan typo yang bertebaran di sepanjang ff ini.
Kritik dan sarang sangat di harapkan. Sekali lagi, trimakasih!! ^^
**

Readmore → My Lovely Partner

Wednesday, February 24, 2016

Soulmate Part 4 [END]


Soulmate Part 4 [END]


|| a story by Ly @Lia_YH ||

|| Length : 4 Shoot || 

|| Rating : T || 

|| Genre : Romance, Friendship, Family || 

|| Main Cast : Park Nana (OC) and Park Cahn Yeol EXO||

|| Other Cast : Kim Jia (OC), Byun Baekhyun Exo, and other||

** Ini adalah kelanjutan dari sequel Soulmate. Ini menjadi part terakhir, ending.
Untuk part 1 nya ada di => Soulmate Part 1 (Annyeong).
Dan part 2 ada di => Soulmate Part 2 (Dilemma).

Happy Reading!! ^^

|| Bagian 4 ||

[Sebelumnya]

Chanyeol mengantarkan Nana pulang dari rumah sakit dan lalu mereka berbicara mengenai perasaan yang dalam. Setelah selesai, Chanyeol kembali ke rumah sakit untuk menemani Jia yang masih terbaring di rumah sakit.

...

|| Bagian 4 ||

Chanyeol berlari sekencang yang ia bisa. Sepertinya ia lupa untuk sekali saja bersikap tenang, setidaknya kini ia sedang berada di koridor rumah sakit.

'Cklek!!' Chanyeol membuka pintu ruang rawat Jia seolah tak sabar ingin menemui sahabatnya itu.

"Jia-Ya!! Aku kemba-.." Kata-kata Chanyeol terputus saat ia melihat seseorang yang sedang menemani Jia di ruang rawatnya. "He? Ahjuma? A anyeong haseyo.. Jeongmal mian, aku tidak tau ahjuma ada disini. Hehe.." Kikuk Chanyeol yang tertunduk karena malu. Sementara Jia hanya tertawa dengan mulut yang penuh dengan buah.

Kini Jia masih terbaring lemah di ruang rawatnya, ditemani dengan ibunya yang sepertinya baru pulang bekerja.

"Ah.. Gwaenchana gwaencahana.." Jawab Nyonya Kim, Ibunya Jia. "Ah, Chan ah.. Jia bilang tadi sebelum ahjuma datang, ada 2 orang teman lainnya yang datang menjenguknya. Benarkah itu? Ah.. sayang sekali ahjuma tidak sempat menemui mereka." Tanya Nyonya Kim.

"Geurae, ahjuma. Tidak apa-apa, mereka mengerti bahwa ahjuma sedang bekerja." Jelas Chanyeol.

"Ah.. seperti itu ya? Dan Chan ah, terimakasih ya sudah bersedia menjaga Jia selama ahjuma bekerja. Tapi sekarang pekerjaan ahjuma sudah selesai, sekarang ahjuma bisa menjaga Jia. Ini juga sudah malam, sebaiknya kau segera pulang sebelum larut. Bukankah besok kau harus bersekolah?"

"Um.. se- sebenarnya aku datang untuk menemui Jia. Ada hal kecil yang ingin aku sampaikan." Chanyeol menjelaskan maksud kedatangannya.
Jia pun mengerti, sepertinya memang ada hal penting yang ingin Chanyeol sampaikan padanya. Dan entah kenapa, Jia merasa akan lebih nyaman jika mereka hanya berbicara berdua saja tanpa ada telinga ketiga (dalam hal ini, Ibunya Jia sendiri) terlebih jika itu menyangkut privasi Chanyeol.

"Eh eh? Ttal? Apa yang ingin kau katakan? Jangan hanya mensikut dan bergumam seperti itu, eomma tidak mengerti.." Kata Nyonya Kim kepada Jia yang sejak beberapa saat lalu tangannya mensikut-sikut lengan ibunya sendiri sembari berbisik tidak jelas. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu namun enggan.

"Aihs.. Eommaaa.." Rengek Jia.

Nyonya Kim tentu saja mengerti dengan gelagat putrinya. Ia faham jika Jia akan lebih nyaman jika Nyonya Kim meninggalkan mereka berdua di ruangan. Batinnya terkekeh kecil. Tapi untuk meninggalkan putri semata wayangnya bersama Chanyeol bukanlah hal yang perlu ia khawatirkan. Ia sudah mengenal bagaimana Chanyeol dan Jia berteman baik sejak lama.

"Ah.. Pfft.. Baiklah, baiklah.. Eomma mengerti. Eomma akan pergi." Nyonya Kim masih terkekeh kecil.

"He? Ah ahjuma sebenarnya tidak perlu pergi jika Ahjuma ingin tetap disini." Chanyeol terlihat masih kikuk.

"Gwaenchanayo.. Ahjuma hanya akan keluar sebentar. Dan kau, Chan ah., semoga sukses!" Goda Nyonya Kim saat ia melewati Chanyeol yang masih saja berdiri di depan pintu.

Pipi Chanyeol terlihat memerah karena malu, dan lagi-lagi Jia hanya tertawa kecil. Tapi tak berselang lama, tawa Jia hilang. Jia melihat sebuah cincin bertengger di jari manis Chanyeol. Jia tahu persis bahwa itu adalah cincin couple yang tempo hari mereka beli untuk Nana.

"Chukkae." Ucap Jia tak bersemangat.

"Ne?" Chanyeol heran, lalu melihat cincin yang dikenakannya. "Ah.. maksudmu cincin ini? Um.. Nana baru saja menolakku." Jawab Chanyeol lalu duduk di kursi disamping tempat Jia berbaring.

"Mw mwo?" Jia tersentak dan berusaha bangkit dari tudurnya, namun "Ah aww!" Ia terlalu lemah.

"Kya.. Apa yang kau lakukan?! Dokter menyuruhmu jangan banyak bergerak! Pecicilan!" Nasihat Chanyeol.

"Neon Gwaenchana?" Tanya Jia. Bahkan dalam kondisinya yang seperti ini pun ia masih memikirkan Chanyeol.

"Nan gwaenchanayo. Better than fine." Chanyeol tersenyum tenang.

"Geurae! Masih ada kesempatan lain! Mari kita berusaha lagi!" Seru Jia sembari mengangkat lengan Chanyeol tinggi-tinggi.

"Ani aniyo.." Chanyeol menggenggam tangan Jia. "Sudah cukup, Jia ya. cukup."

"He? Kau ingin menyerah begitu saja?" 

"Tidak. Aku sama sekali tidak menyerah. Tapi aku sadar. Apa yang harus ku perjuangkan dan apa yang harus ku relakan."

"..." Jia tidak mengerti.

"Nana yang menyadarkan ku. Bahwa gadis yang selalu ku fikirkan, ku khawatirkan, ku lindungi dan tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya, gadis yang membuatku merasa tidak bisa melakukan apapun tanpanya,  gadis paling berharga, gadis yang selama ini bersembunyi di hatiku, itu adalah ... kau. Kau, Kim Jia, kau." Ucap Chanyeol meyakinkan. Sampai-sampai Jia terharu mendengarnya. Air mata Jia sedikit mengalir meski telah ia tahan. "Aku tidak tahu apakah ini sudah terlambat atau belum. Tapi aku tidak pernah merasa seyakin ini. Jia-ya, aku menyayangimu. Aku menyayangimu lebih dari sekedar teman sekelas yang selalu mengajariku materi pelajaran. Aku menyayangimu lebih dari teman bermain yang selalu menemaniku selama ini. Aku menyayangimu lebih dari .. Kau mengerti? Lihatlah mataku! Aku menyayangimu lebih dari sekedar teman biasa, aku menyayangimu lebih dari sahabat biasa. Saat aku melihatmu, aku menemukan banyak kedamaian. Aku.. aku, aku benar-benar menyayangimu. Aku mencintaimu." Ucap Chanyeol begitu yakin. "Maukah kau menjadi kekasihku?" Tanya Chanyeol sejurus kemudian, meski ia ragu jika setelah apa yang ia ucapkan ini apakah Jia akan tetap bersedia berteman dengannnya.

Jia masih terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Bukankah ini yang selama ini ia nantikan? Tapi ketika saatnya telah tiba, ia terlalu bahagia bahkan untuk mengatakan bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama dengan Chanyeol. Jia berusaha bangkit untuk duduk. "Lebih dari apapun, kau bilang kau menyayangiku lebih dari apapun?" Tanya Jia.

Chanyeol mengangguk. "Mian, Aku tidak bisa menahan diriku. Aku tahu mungkin ini mengejutkanmu, tapi aku hanya ingin kau tahu bahwa aku.." Ucapan Chanyeol terputus ketika Jia memeluk Chanyeol begitu erat.

"Aku tahu. Aku tahu." Ucap Jia. "Nado saranghae.." Jawab Jia kemudian. Sontak saja itu membuat Chanyeol terkejut sekaligus bahagia.

"Kau, Kau mencintaiku? Haha.. Aku tahu aku bodoh. Tidak pernah bisa menyadari ini sejak awal. Betapa bodohnya aku. Aku tahu aku bodoh." Aku Chanyeol sembari membalas pelukan Jia.

"Aku juga."

"Andwaeyo, kau sama sekali tidak bodoh."

"A aniya, maksudku aku juga tahu bahwa kau bodoh." Ejek Jia.

"Kya!! Chagiya!!" Sengit Chanyeol.

"Pfft.. Ah.. Masa remaja." Sepertinya Nyonya Kim harus segera mengakui bahwa putrinya, Jia, memang telah beranjak remaja. Ia terkekeh geli, namun juha terharu melihat -mengintip- adegan manis di dalam ruang rawat Jia.


~*~

Hari-hari berlalu. Kini Jia telah sembuh dan dapat kembali ke sekolah. Chanyeol yang tempo lalu menunda keberangkatannya ke Jepang karena Jia, kini ia sedang melakukan banyak persiapan yang lebih matang untuk pergi ke Jepang dan melanjutkan study nya disana. Ya, mereka bertiga masih selalu belajar bersama, Jia, Chanyeol, dan Nana. Sikap Chanyeol pada Nana masih sama seperti biasanya, manis dan menggemaskan. Tapi kali ini Chanyeol harus lebih berhati-hati dan lebih menjaga perasaan Jia, kekasihnya. Nana sendiri tidak merasa canggung dengan hal itu. Nana kini lebih merasa tenang dengan kepastian yang selama ini menjadi tanda tanya besar di hatinya. Meski akhirnya Chanyeol tidak bersamanya, tetapi Nana tetap bahagia bersahabat selamanya dengan Chanyeol dan Jia. Kebahagiaannya bertambah tidak terkira dengan hubungan kedua orang tuanya yang semakin hari semakin membaik. Meski belum seharmonis keluarga bahagia yang dicanangkan pemerintah, namun mereka masih dan akan tetap berusaha.

Dan Byun Baekhyun, namja itu masih tidak berubah. Masih menjadi bintang yang bersembunyi di balik kabut. Mencintai Nana secara diam-diam. Menemani Nana setiap harinya, membaca buku di perpustakaan, memakan bekal di atap sekolah, menonton dvd bersama, terkadang pergi berpiknik bersama, dan tidak penting hal apapun yang mereka lakukan, tapi point kebersamaannya lah yang mereka nikmati.

~*~ 6 months latter ~*~

Akhir semester tiba. Semua siswa berkumpul di tengah lapangan dan lulus dengan bahagia. Nana dan Baekhyun sudah tidak diragukan lagi, mereka berdua lulus dengan nilai sempurna. Dan entah kebetulan atau apa, mereka berencana melanjutkan study di universitas ternama yang sama yang masih di kota Seoul. Jia juga lulus dengan nilai yang cukup bagus, meski ia masih bingung menentukan universitas yang akan ia pilih. Berbeda dengan Chanyeol yang tekadnya telah kuat, selepas kelulusan ia akan segera menyusul kedua orang tuanya yang baru saja pindah ke Jepang, lalu melanjutkan study nya disana sebagai persiapan melanjutkan bisnis keluarganya kelak.

~*~

Hari keberangkatan Chanyeol ke Jepang pun tiba. Chanyeol berangkat ke bandara dengan diantar oleh Nana, Jia, Baekhyun, Nyonya Kim ibu Jia, dan tidak lupa orang tua Nana. Mereka berkumpul di restoran bandara dan menunggu keberangkatan pesawat.

"Nah.. Yeollie, tidak terasa kau sudah dewasa ya. Hati-hatilah selama perjalanan. Dan segera hubungi kami setelah kau sampai di sana, ya?" Nasihat tuan Park, ayah Nana, sembari menepuk-nepuk bahu Chanyeol. Beliau memang telah menganggap Chanyeol sebagai anaknya sendiri, karena dulu keluarga mereka pernah bertetangga dengan baik, dan Chanyeol kecil sering bermain bersama Nana kecil.

"Ne, ahjussi." Angguk Chanyeol.

"Yaksok? Begitu sampai, hubungi kami!" Nana menambahkan.

"Geurae.." Lagi-lagi Chanyeol mencubit pipi Nana dan membuatnya cemberut.

"Haha.. Sejak kecil Nana memang tidak pernah suka jika pipinya di cubit Yeolli. Ia selalu mengadukannya sepulang bermain! Hihi.." Kali ini Nyonya Park mengenang masa kecil anaknya dan membuat semua larut dalam gelak tawa.

"Eh, lihatlah, pesawat Chanyeol akan segera berangkat." Nyonya Kim melirik jam tangannya. "Sebaiknya kita segera bersiap-siap. Jia ya, tunggu ya.. Eomma akan membayar makanannya dulu. Semuanya, permisi dulu ya.." Pamit Nyonya Kim sembari menyiapkan dompetnya.

"Ah, Nyonya Kim. Tidak enak jika Anda yang membayar semuanya. Biar saya saja yang membayarnya." Pinta Tuan Park.

"Tidak enak juga jika tuan Park yang membayar semuanya. Bagaimana jika kita membayarnya bersama-sama saja?" Usul Nyonya Kim kemudian.

"Ide yang bagus. Mari, Nyonya Kim!" Tuan Park pun menyetujuinya. "Chagiya, kau ikut?"

"Geurae, yeobo." Jawab Nyonya Park.

"Mari."
Ketiganya pun pergi, dan meninggalkan kedua putrinya (Jia dan Nana) bersama Chanyeol dan Baekhyun.

"Kau diam saja?" Bisik Nana mensikut lengan Baekhyun yang duduk di sampingnya.

"Aku hanya canggung saja. Hehe.." Jawab Baekhyun.

"Dan seperti ini lah.." Chanyeol melayangkan punggungnya ke sandaran kursi yang ia duduki.

"Ya, seperti ini." Nana tersenyum menimpali.

"Iya." Chanyeol membalas senyuman Nana. Entahlah. Ada percakapan bisu yang sepertinya hanya di mengerti oleh Chanyeol dan Nana.

"Ya,  chagiya, kenapa kau diam saja?" Tanya Chanyeol kemudian yang menyadari gelagat aneh dari kekasihnya. Jia kini lebih banyak diam, tidak seperti biasanya.

"Ada apa Jia ya?" Cemas Nana.

"Namja chinguku akan pergi, bagaimana bisa aku berkata bahwa tidak ada apa-apa?!" Akhirnya Jia angkat bicara.

"Oh.. Itu.." Ucap Chanyeol ringan.

"He? Kenapa kau bisa bersikap sebiasa itu, huh?! Apa kau memang senang bisa pergi jauh dariku? Huh?!" 'Plak!!' Dan sebuah pukulan Jia layangkan ke dada Chanyeol.

"Kya.. Appo.." Rengek Chanyeol manja.

"Jia-sii, tenanglah. Bukankah Chanyeol telah berjanji padamu untuk kembali? Seorang namja sejati akan menepati janjinya. Jadi, kau tidak perlu khawatir." Baekhyun mencoba menenangkan.

"Baekhyun benar, chagi." Chanyeol tersenyum senang seolah mendapat pembelaan. "Dan Baekhyun sii, sebagai namja sejati, aku memintamu untuk menjaga kedua gadis ini. Mereka sangat berharga bagiku. Tolong Jaga Nana, aku percaya kau bisa melakukannya dengan baik dan senang hati tanpa perlu ku minta. Kau tahu, dia hanya terlihat seperti kuat dari luar, tapi sebenarnya ia hanya seorang putri kecil yang terlalu berani dan terkadang membahayakan dirinya sendiri! Haha.." Chanyeol mencolek ujung hidung Nana. "Aniyo aniyo.. Pffft.. Aku bercanda, maksudku kau memang gadis yang hebat! Dan untuk Jia, tolong jangan kalian biarkan ia meluncur dari atap lagi! Haha.." Tambah Chanyeol lagi dan membuat semua tertawa.

"Anak-anak, ayo cepat.. Pesawatnya akan segera berangkat!" Seru Nyonya Kim. Mereka berempat pun segera bersiap.

"Sebentar lagi." Chanyeol menahan lengan Jia yang hampir bangkit dari kursinya. "Sebentar lagi." Ucapnya lagi. Jia pun duduk kembali. Sementara Nana dan Baekhyun pergi dan membiarkan mereka menghabiskan waktunya berdua.
Hingga Nana dan Baekhyun melewati pintu restoran, namun Jia dan Chanyeol belum terlihat menyusul juga.

"Aish.. Apa Chanyeol ingin melewatkan penerbangannya lagi?" Gerutu Nana. Akhirnya ia memutuskan untuk berbalik menyusul Chanyeol dan Jia di restoran. Namun saat ia baru saja membalikan badannya, satu langkah kaki pun urung ia lakukan. Dari luar jendela besar restoran, terlihat jelas meja tempat mereka duduk tadi. Nana melihatnya. Chanyeol dan Jia masih duduk disana. Dan sebuah kecupan perpisahan Chanyeol tinggalkan di bibir Jia. Cukup lama Nana menyaksikannya sampai sebuah tangan menutup matanya dari belakang dan memutar tubuh Nana hingga berhadapan dengan dadanya. Dipeluknya tubuh Nana. "Nan gwaenchanayo, Baekhyun ah." Ucap Nana.

...

Pesawat Chanyeol telah lepas landas. Seluruh kerabat yang ikut mengantar kini pulang ke rumah masing-masing.

"Permisi, Ahjussi. Bolehkah aku mengajak Nana berjalan-jalan sebentar di danau bersamaku? Lalu akan ku antar Nana pulang." Tanya Baekhyun.
Nana terkejut, ini kali pertama Baekhyun berbicara dengan ayahnya.

"Apa aku bisa mempercayaimu?" Tanya tuan Park yang belum terlalu mengenal Baekhun karena kesibukannya.

'Deg!' Baekhyun semakin tegang saja.

"Appa.." "Yeobo.." Ucap Nana dan Nyonya Park bersamaan.

"Tentu, Ahjussi." Yakin Baekhyun.

"Bagus." Tuan Park terseyum. Sebenarnya ia tidak bersungguh-sungguh dengan pertanyaanya tadi. Namun kini ia menemukan pribadi Baekhyun yang optimis dan bertanggung jawab. "Nana boleh pergi bersamamu." Lanjutnya lagi.

...

Baekhyun mengajak Nana pergi ke danau. Sekedar mencoba membuat Nana lupa pada apa yang ia lihat di dalam restoran bandara tadi.

"Neon gwaenchanayo?" Tanya Baekhyun.

"Apa aku terlihat seperti tidak baik-baik saja?" Nana balik bertanya.

"..." Baekhun menggeleng.

"Kau lihat? Aku baik-baik saja." Tegas Nana.

Hening, mereka duduk di rerumputan dan memandang danau yang terbentang luas dihadapan mereka. Bakung bakung mengambang, berapa ekor kodok terlihat berlayar diatas daun teratai.

Nana mengambil sebuah kerikil, lalu ia lemparkan ke danau.
"Baekhyun ah, apa kau tahu? Didunia ini hanya ada 1 cinta. Tapi jalannya berbeda." Ucap Nana memecah keheningan.

"Aku tidak tahu. Jalan cinta seperti apa?"

Nana mengambil dua buah kerikil di tangan kanannya. "Ada cinta yang indah. Mereka tahu mereka saling mencintai, dan hidup bersama." Dilemparnya dua kerikil itu ke tengah danau secara bersamaan.
Lalu ia kembali mengambil sebuah kerikil di tangan kanan, dan sebuah kerikil lagi di tangan kiri. "Lalu ada cinta yang rumit, mereka tidak tahu siapa yang mereka cintai." Dilemparnya kedua batu itu ke danau secara menyamping, hingga ke duanya berjauhan.
"sama halnya dengan namja ceroboh bernama Park Chanyeol yang baru saja meretakkan hatiku! Ish.. Bagaimana bisa ia keliru dan mengira bahwa ia mencintaiku, padahal tidak. Ugh! Untung saja ia adalah sahabatku! Kalau bukan, pasti ia sudah babak belur saat ini!! Kkkk..." Celoteh Nana.

"Uwah.. Jika Chanyeol bukan sahabatmu, apa kau akan memukul Chanyeol?" Tanya Baekhyun terkejut..

"Eh? Um.. Tentu tidak! Kau kan yang akan memukulnya untukku! Hehe.."

"Lalu ada cinta yang penuh pengorbanan. Seperti bagaimana Jia telah berkorban selama ini. Jalan cinta tidak selalu indah. Ada juga cinta yang menyedihkan. Seperti bagaimana kedua orangtuaku yang selalu bertengkar seolah lupa bahwa mereka saling mencintai. Tapi bagaimanapun, pada akhirnya cinta adalah 1, selalu membawa kebahagiaan. Lihatlah, Jia telah mendapatkan buah yang manis dari pengorbanannya selama ini. Ia telah mendapatkan cintanya. Dan Park Chanyeol yang rumit juga akhirnya sudah bisa menyadari cintanya. Lalu kedua orang tuaku, karena cinta, kini mereka berusaha memperbaiki semuanya dan semua sekarang terasa lebih indah! Senangnyaaaa.." Nana tersenyum bahagia.

"Kau melupakan sesuatu. Lalu, bagaimana dengan dirimu? Jalan cintamu?" Tanya Baekhyun lagi.

"Aku? Aku cukup bahagia dikelilingi dengan cinta yang indah. Meski tidak bisa mendapatkan cinta pertama masa kecilku (Chanyeol), tapi aku sangat lega dengan semua yang terjadi. Aku banyak belajar, dan akhirnya aku bisa mengerti sesuatu. Kau benar Baekhyun ah. Seperti bintang. Pasti ada satu cinta yang indah untukku."

"Bagus. Jadi, sekarang kau mengerti?"

"Eung! Aku mengerti dan aku tahu. Tidak, maksudku aku yakin!" Tambah Nana penuh rasa percaya diri.

"Apa yang kau yakini?" Tanya BaekHyun, kali ini ia menjadi lebih penasaran.

"Tentang bintang itu. Ia memang nyata. Setelah semua yang terjadi, perubahan di sana-sini, ada satu hal yang tidak berubah. Yaitu kau, kau selalu ada untukku. Ku rasa sekarang aku bisa melihat bintang itu." Nana tersenyum. Matanya menatap lekat mata BaekHyun yang sejak sepersekian detik yang lalu berbinar menunduk menatap kepalan tangannya sendiri.
Ah, laki-laki itu masih belum berubah saja. Ia masih lelaki kecil yang tidak berani mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya.

Senyum Nana mulai memudar, 'Ah, apa yang ku harapkan?!' Batinnya. 'Tidak seharusnya aku berkata seperti itu. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Belum tentu BaekHyun benar-benar menyukaiku. Namja ini kan memang bersikap baik kepada semua orang!' Batinnya terus berkelumit.
"Jadi, terimakasih untuk semuanya!" Nana membungkuk dengan hormat, lalu hendak pergi karena merasa tidak nyaman atas ucapannya sendiri.

"Eh?" BaekHyun menangkat kepalanya. Matanya menangkap punggung Nana yang berjalan pelan menjauhinya. Tampaknya ia sedang mengumpulkan keberaniannya, kepalan tangannya semakin kuat. "Nana ya!" Panggil BaekHyun, sebenarnya terdengar seperti meneriaki.

"Eh?" Yang di panggil menoleh. 'Apa ucapanku tadi keterlaluan?' Fikir Nana sejenak, sembari menunggu BaekHyun yang kini berlari ke arahnya.

BaekHyun menggengga kedua tangan Nana.
"Setelah sama-sama lolos seleksi masuk universitas, ..." Kalimat BaekHyun menggantung. Ia menunduk sejenak.

"Ya?" Nana memirngkan kepala, mencoba mencari kata yang mungkin masih tersembunyi di balik mulut BaekHyun.

"Mari kita menikah!" Ucap BaekHyun dengan mantap. Matanya menatap tepat bola mata Nana dengan penuh rasa percaya diri dan permohonan yang tulus.

"Eh?" Nana terlonjak kaget. Ini memang kalimat yang sangat ia dambakan, hanya saja ia tidak percaya bisa mendengarnya secepat ini.

"Aku bersungguh-sungguh. Setelah lolos seleksi masuk universitas, mari kita menikah. Aku akan belajar dengan giat hingga lulus, aku juga sudah merencanakan sebuah bisnis kecil di kedai di taman kota. Lalu, mari kita tinggal di distrik -" Kata-katanya terpotong.

"Eh???!! Ke kenapa begitu mendadak?!" Seru Nana.

"Entahlah, dengan optimis aku sudah mempersiapkan semuanya sejak awal. Aku benar-benar ingin menghabiskan sisa hidupku bersama orang yang sangat ku cintai. Apa kau tidak keberatan?" Tanya BaekHyun begitu enteng.

"Ta tapi, bukankah sebaiknya wisuda dulu baru menikah?!" Usul Nana.

"Menikah, lalu wisuda. Melebarkan sayap bisnis, baru membuat program kehamilan. Telah ku persiapkan. Tinggal kita diskusikan." BaekHyun kembali memaparkan rencananya. Tidak di kira, namja semuda itu begitu penuh perencanaan dan persiapan.

"Ta tapi," Nana masih menimang.

"Tidak mau menikah denganku ya?" BaekHyun menegaskan pertanyaannya.

'Plak!' Sebuah pukulan mendarat di dada BaekHyun.
"Babo! Tentu saja aku mau! Sangat mau!!" Tegas Nana.

"Baiklah," BaekHyun merangkul bahu Nana, lalu menuntunnya berjalan meninggalkan danau.

"Ta tapi, apa itu tidak terlalu cepat?!" tanya Nana.

"Aku belum membeli sofa untuk ruang tamu kita. Sepertinya akan lebih bagus jika kau yang memilih!" Celoteh BaekHyun tanpa menghiraukan pertanyaan Nana barusan.

"E eeh?!!!" Pekik Nana. Tak bisa dipungkiri, rasa kagetnya jauh dibawah rasa bahagia tak terkira yang kini ia rasakan. Menemukan seseorang yang tepat adalah hadiah terbaik dalam hidup. Tak kan ia sia-siakan lagi,  tak kan ia biarkan hilang.

Ck, namja yang belum cukup berani ternyata. Ia tidak berani (gengsi) mengungkapkan gejolak kebahagiaan yang kini mendera hatinya, seluruh jasadnya. Bersamaan dengan langkah awal membangun semua mimpinya, ia berjanji untuk tetap menjaga impiannya (Park Nana) dalam bahagia.

-END-

**** Epilog
Semua orang memiliki kebahagiannya masing-masing. Jalan yang saling bersangkutan, mungkin terkadang bersenggolan, hingga tersungkur dan terluka. Tapi ujungnya, tetap membawa petualangnya pada kebahagiaannya masing-masing. Bagaimana pun caranya.

Note: Terimakasih untuk kamu, yang sudah menyempatkan membaca ff ini. Kritik dan saran sangat diharapkan.
Mohon tidak mencopy sebagian atau keseluruhan tulisan ini tanpa menyertakan cr jelas.
Sekali lagi, terimakasih! ^^
Readmore → Soulmate Part 4 [END]

Soulmate part 3 [Mianhae, Saranghae]


Soulmate Part 3 [Mianhae, Saranghae]




|| a story by Ly @Lia_YH ||

|| Length : 3 / 4 Shoot || 

|| Rating : T || 

|| Genre : Romance, Hurt || 

|| Main Cast : Park Nana (OC) and Park Chan Yeol EXO||

|| Other Cast : Kim Jia (OC), Byun Baekhyun Exo, and other||

** Ini adalah kelanjutan dari sequel Soulmate Part 1 (Annyeong) dan Soulmate Part 2 (Dilemma).
Untuk part 1 nya ada di => Soulmate Part 1 (Annyeong).
Dan part 2 ada di => Soulmate Part 2 (Dilemma).
Happy Reading!! ^^



|| Bagian 3 ||

[Sebelumnya]
'Annyeong nege dagawa..' Handphone Nana berbunyi. Nana mengambil jarak dan merogoh hanphone disakunya. Panggilan masuk dari Baekhyun. Chanyeol tidak senang melihatnya.

"Chankaman." Nana berjalan beberapa langkah ke belakang Chanyeol. Chanyeol hanya memerhatikan. Percakapan yang terlihat sangat berat hingga tanpa sadar Nana menjatuhkan Handphonenya.

"Wae?" Tanya Chanyeol khawatir.

"Ji.. jia." Nana tersentak.

...

Soulmate part 3 [Mianhae, Saranghae]

<<<<Flashback
"Jadi, kau tahu ini hari terakhir Chanyeol di sekolah, kenapa kau tidak memanfaatkan waktu-waktu ini?" Tanya Baekhyun.

"Aniyo. Akan lebih berkesan bagi Chanyeol jika ia bersama Jia di hari terakhirnya." Jawab Jia lemas.

" Apa kau sendiri tidak ingin membuat kesan mendalam bersama Chanyeol hari ini." Tanya Baekhyun lagi.

"Aniyo.. um maksudku tidak pernah ada kata cukup untuk menikmati waktu bersamanya. Tapi selama bertahun-tahun ini kami selalu bersama, dan untuk hari ini, biarlah menjadi hari yg spesial baginya."

"Hari yang spesial?"

"Eung! Chanyeol dan Nana. Chanyeol akan mengungkapkan perasaanya hari ini pada Nana. Ia menginginkan sebuah kepastian sebelum ia berangkat. Ia bilang itu akan memberinya semangat lebih untuk kembali lagi nanti." Jelas Jia panjang lebar.
Keduanya sedang membicarakan hal mendalam yang sama-sama mereka sayangkan. Ya, membiarkan orang yang mereka sukai bersama orang lain.

"Ah.. ne. Um a aku akan segera kembali ke kelas. Sepertinya kelas akan segera di mulai." Pamit Baekhyun lalu pergi meninggalkan Jia. Sebenarnya Baekhyun juga pergi untuk menyembunyikan ekspresinya yang kacau saat ini.
Mendengar kelas akan segera di mulai, Jia segera bangkit dan menyusul Baekhyun. Namun malang, kakinya yang terlalu lemas setelah berlari menaiki tangga membuatnya kehilangan keseimbangan untuk bangkit dari duduknya. Jia mulai oleng dan, "Aaaaa!!!" ... 'BRUKK!' Jia jatuh.
Baekhyun menoleh, "Jia!!" Namun Jia telah tak nampak di matanya, Jia jatuh ke sebuah balkon satu lantai dibawah atap sekolah.

...

"Pabo!" Chanyeol mengumpat Jia yang baru siuman dan terbaring lemas di rumah sakit.

"Kya! Sst!" Nana menyikut pinggang Chanyeol. "Jia-ya, Apa kau baik-baik saja?.." Tanya Nana khawatir.

"Caritakan apa yang terjadi!" Buru Chanyeol.

"Ya.. Kau tidak perlu seemosi itu.." Protes Jia.

...

Sepulang dari rumah sakit Nana menolak Chanyeol yang menawarkan dirinya untuk mengantar Nana pulang. Lagi pula sekarang Nana sedang tidak ingin pulang ke rumahnya. Ia menuju suatu tempat yang ia khawatirkan, gedung kesenian kota, tepatnya salah satu studio latihan menari di gedung itu.

...

*Nana P.O.V
"Sudah ku duga kau disini." Sapaku pada Baekhyun yang sedang berlatih menari.
Baekhyun berlatih sangat keras hingga terlihat kelelahan. Wajahnya memerah, keringat bercucuran di tubuh bahkan di rambutnya. Aku menawarkan sebotol minuman.

"Gomawo." Ucap Baekhyun setelah meneguknya. Tapi bukannya beristirahat dan menemaniku duduk, Baekhyun kembali melanjutkan latihannya.

"Kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri, Baekhyun ah!" Ucapku. Aku mengerti apa yang membuatnya seperti ini.

"Egois dan hanya memikirkan perasaanku sendiri, tanpa peduli apa yang terjadi didisekeliling. Itulah aku." Ucap Baekhyun yang tetap tak berhenti menari.

"Apapun yang kau fikirkan itu tidak benar." Elakku.

"Andai aku lebih melihat ke sekeliling dan tidak membiarkan sesuatu yang buruk terjadi, pasti-"

"Stop it!" Aku bangkit dari dudukku dan membentak Baekhyun.
Baekhyun berhenti dan menatapku kaget. Ini memang pertama kalinya aku meneriakinya seperti ini. Tapi aku benar-benar tidak bisa membiarkan Baekhyun merasa terbebani dan menghukum dirinya sendiri.
"Dengarkan aku. Geurae, kali ini kau harus lebih memperhatikan sekeliling! Jadi, dengarkan aku." Aku mengunci matanya. "Jia jatuh bukan karena kau. Kau tidak tahu apa-apa dan tidak mengira hal ini akan terjadi. Meskipun kau tidak meninggalkannya seperti tadi, apa kau fikir kau bisa mencegah takdir?" Lanjutku.
Baekhyun menggeleng. "Jadi, ku mohon jangan menyalahkan dan menghukum dirimu sendiri. Tenanglah, besok kita akan menjenguknya." Tambahku mencoba menenangkannya.

...

Siang ini sepulang sekolah aku dan Baekhyun pergi ke rumah sakit menjenguk Jia.
"Kau disini?" Aku melihat Chanyeol yang duduk di samping Jia dan menyuapinya buah. Karena seingatku hari ini adalah hari keberangkatannya ke Jepang.

"Ne." Jawab Chanyeol dengan menunjukan deretan giginya yang rapih.

"Apa kabar, Jia!" Baekhyun langsung meluncur menghampiri Jia.

"Nana-ya, kenapa kau membawanya kesini?" Tanya Chanyeol yang tampak tidak senang melihat Baekhyun. Ia menghampiri Baekhyun dan meremas kerah baju Baekhyun, lalu menyeretnya ke dinding.
Tubuh Chanyeol telah menegang, sementara Baekhyun hanya tertunduk lemas merasa tak berhak melawan.
"Kenapa kau tidak membantunya saat itu? Kenapa kau membiarkannya jatuh, huh?!" Sengit Chanyeol.

"Mi mian.." Baekhyun masih tertunduk lemas.
Lalu ku lihat tangan Chanyeol mulai mengepal.

"Yeolli!" Aku menghampiri mereka dan mencoba melerai. "Berhenti, Chanyeol! Kau tidak boleh membuat keributan disini!" Ucapku cemas. Tapi amarah Chanyeol telah memuncak. Ia mengangkat kepalan tangannya ke atas. Baekhyun menutup matanya bersiap untuk menerima pukulan yang diarahkan ke wajahnya.

"Stop!" Satu teriakan dari Jia, dan waktu seolah berhenti. Chanyeol menghentikan pukulannya yang tinggal berjarak beberapa mm dari wajah Baekhyun. Aku menoleh ke arah Jia, Baekhyun membuka mata dan mengelus dadanya, sementara Chanyeol tertunduk lemas menahan emosinya lalu menghempaskan kepalannya kedinding.
"Ya.. tidak bisakah kalian membuatku tenang? Ayolah.. libur pribadi dari sekolah itu sangat jarang.." Ucap Jia ringan.

Baekhyun menghampiri Jia. Dengan mata yang berkaca-kaca, "Jia-ssi, mi mian.. Jeongmal mian.. Harusnya aku tahu dan lebih memperhatikan sekitar saat itu." Baekhyun memohon.

"Andwae.. jangan merasa bersalah. Ini bukan salahmu. Aku terlalu ceroboh dan ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu hanya karena kebetulan kau ada di tempat yang sama saat itu. Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri." Jia tersenyum ramah. Aku tenang melihatnya.

'Pluk' Chanyeol menempatkan tangannya di bahu Baekhyun. Baekhyun menoleh dan kembali tegang.
"Mian." Ucap Chanyeol.
Baekhyun senyum dan mengangguk. Aku semakin tenang melihatnya.
Ruang rawat kini terasa lebih tenang.

*Chanyeol P.O.V
Hari ini Nana dan Baekhyun menjenguk Jia. Nana tampak terkejut melihatku. Karena yang ia tahu adalah hari ini aku akan pindah ke Jepang. Dan ku batalkan perjalananku karena yeoja ceroboh yang menjatuhkan dirinya dari atap sekolah ini.
Aku mengantar Nana pulang setelah hari mulai senja.

"Gomawo." Ucap Nana saat ia turun di depan gerbang rumahnya.

"Ne." Aku bergegas untuk kembali ke rumah sakit, sebenarnya aku tidak tega meninggalkan Jia di rumah sakit seperti ini. Tapi Nana memanggilku dan memintaku untuk berbincang sebentar. Aku pun mengikutinya dan duduk di kursi di beranda rumahnya.

"Ku kira kau sudah berangkat ke Jepang." Ucap Nana.

"um.. Aku menunda keberangkatanku! Hehe.."

"Eum. Arra. Kau tidak akan tenang meninggalkan Jia dalam kondisinya seperti itu kan?" Tebak Jia.

"Geurae. Aish.. Yeoja pengacau itu! Jika saja bukan karena kecerobohannya melukai dirinya sendiri dan membuatku sangat khawatir seperti ini, mungkin sekarang aku sudah berada di Jepang." Jawabku. Ku lihat Nana hanya tersenyum ringan mendengar jawabanku barusan. Eh? Apa ada yang salah? Apa jawabanku tadi terlalu berlebihan?

"Jika saja aku bisa menggantikan posisi Jia, dan aku yang terjatuh saat itu, dan aku juga yang terbaring di rumah sakit saat ini, apa kau akan tetap tinggal disini atau berangkat ke Jepang?" Tanya Nana sejurus kemudian, masih dengan senyum ringan yang sulit ku artikan. Aku terdiam sejenak. "Eottae? Kau akan tetap tinggal?" Tanyanya lagi. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus ku katakan agar tidak terlihat berlebihan lagi dihadapan Nana. "Aku tahu, kau pasti akan tetap tinggal! Karena dalam keadaan tidak sadarkan diri aku akan terus mengigau memanggil-manggil nama mu! Kkk.." Candanya kemudian. Aku ikut tertawa melihatnya. Aku tidak pernah melihat ia banyak bercanda.

"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" Tanyaku. Aku tahu ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. "Aku tidak pernah melihat mu banyak memulai topik candaan. Orang-orang terkadang menyembunyikan kekacauan perasaan mereka dengan sebuah tawa." Ucapku.

"Yeolli, ku lihat kau bisa menjadi sangat marah. Sangat marah pada siapapun yang menyakiti Jia. Bahkan kau meneriaki Jia karena kecerobohannya menyakiti dirinya sendiri, dan kau hampir memukul Baekhyun karena ia tidak bisa menyelamatkan Jia saat itu." Ucap Nana.

"Geurae! Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Jia. Ia adalah sahabat terbaikku." Jawabku.

"Lalu, jika Baekhyun adalah aku, apa kau akan memukulku karena tidak bisa menyelamatkan Jia?" Tanyanya kemudian. Dan kali ini ia benar-benar membungkam mulutku dengan pertanyaannya barusan. Aku tidak tahu bahwa aku bisa benar-benar marah pada siapapun yang menyakiti Jia. Siapapun.
"Jika harus, pukul saja aku.." Lanjut Nana.

"Kya.." Aku benar-benar tidak nyaman dengan pembicaraan kali ini.

"Kenapa tidak? Pukul saja aku! Asal jangan mencubit pipiku! Hahaha.." Tawa Nana kemudian. Ish.. Yeoja ini benar-benar hampir membuatku panik!

*Chanyeol P.O.V END

Nana dan Chanyeol tertawa bersama.
"Yeolli?"

"Ne?"

"Apa kau ingat saat kecil dulu kita pernah berjanji?" Tanya Nana.

"Kita berjanji untuk menikah saat aku kembali." "Kita berjanji untuk menikah saat kau kembali." Ucap keduanya bersamaan.

"Eh? Haha.. Kau masih mengingatnya?" Nana terkejut dengan ingata Chanyeol yang ternyata masih mengingat kenangan masa kecil mereka dulu.

"Geurae! Tapi bagaimana kita bisa menikah jika pertanyaanku di taman saat itu belum kau jawab juga?" Keluh Chanyeol.

"He? Memangnya kau benar-benar ingin menikahiku? Hihi.. Ayolah Chanyeol, itu hanya janji masa kecil. Dan saat itu kau hanya melihat padaku. Tapi sekarang, " Nana menggantungkan kalimatnya.

"Sekarang?" Chanyeol meminta Nana melanjutkan kalimatnya.

"Sekarang, lupakan sejenak kejadian di taman itu. Lupakan sejenak janji masa kecil kita untuk menikah. Dulu kau masih sangat kecil, kau sama sekali tidak melihat siapapun dan hanya melihat padaku. Sekarang, ada Jia juga dihatimu." Lanjut Nana.

"Apa maksudmu?"

"Yeolli, aku bisa melihatnya. Tolong jangan mengikat dirimu. Jangan memberi ilusi pada dirimu sendiri bahwa hanya karena aku adalah gadis dari masa kecilmu, bukan berarti selamanya hingga tua nanti kau hanya akan melihat padaku. Jadi sekarang, tanpa melihat apapun, jawablah pertanyaanku sesuai dengan hatimu." Pinta Nana. 'Setidaknya inilah yang bisa ku lakukan untuk meyakinkan apa kau benar-benar mencintaiku atau tidak, sebelum akau menerima permintaanmu ditaman saat itu, Yeolli.' Batin Nana.
"Yeolli, kali ini kau cukup jawab dengan hatimu. Tak perlu kau beri tahu aku. Pertama, didunia ini siapa gadis yang tidak akan pernah kau biarkan siapapun melukainya. Fikirkan hanya 1 gadis, tidak lebih." Tanya Nana. Chanyeol terlihat mengerutkan dahinya.

"Tapi, " Sela Chanyeol.

"Hanya 1, Yeolli, 1." Tegas Nana.

"Baiklah."

"Kedua, fikirkan gadis yang selalu hadir di fikiranmu saat kau terbangun bahkan saat tertidur. Gadis yang membuatmu merasa kau tidak bisa melakukan apapun tanpanya. Jika sudah, fikirkan siapa yang pertama akan kau temui untuk mengungkapkan semua yang ingin kau katakan yang tidak bisa kau ucapkan pada orang lain. Kemudian, fikirkan seseorang yang bisa memberimu banyak energi positif. Yang membuatmu nyaman berada didekatnya, tidak peduli sekacau apapun harimu, kau akan tetap bahagia saat didekatnya." Tutur Nana panjang lebar. "Apa kau sudah benar-benar bisa melihat seorang yeoja yang kau cintai?" Tanya Nana kemudian.

Chanyeol tersenyum simpul. Ia bangkit dari kursinya, dan dipeluknya yeoja yang kini berada dihadapannya. Nana yang mendapat pelukan dari Chanyeol pun hanya diam, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ada perasaan bahagia dan pengharapan lebih di hati Nana.
"Gomapta, Nana-ya. Gomapta." Ucap Chanyeol. Chanyeol berlutut di hadapan Nana dan menggenggam kedua tangan Nana. "Lama tidak bertemu, kau tidak banyak berubah. Sejak kecil kau selalu bisa memahamiku lebih dari diriku sendiri. Kau benar. Dulu aku hanya melihat padamu, dan sekarang ada Jia di hatiku." Jelas Chanyeol.

Nana tersentak. Bukan itu jawaban yang ia harapkan. Nana fikir jawaban dari semua pertanyaanya yang baru saja ia lontarkan pada Chanyeol adalah dirinya sendiri, ternyata bukan. Namun dibalik kekacauan hatinya, Nana tetap berusaha tersenyum untuk Chanyeol, berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dengan hatinya.

"Aish.. Tidak tidak! Jia sama sekali tidak menggantikan posisimu dihatiku. Kau tetap Park Nana, sahabat kecilku. Putri manis dari masa kecilku. Yang kini menjelma menjadi putri cantik dihadapanku. Jangan khawatir, aku akan tetap menjadi Yeolli mu. Hanya saja, kini aku juga akan berusaha menjadi namja baik untuk Jia. Gomapta, Nana-ya. Ku rasa kau telah membantuku melihat rahasia dihatiku sendiri. Aku benar-benar bodoh dan tidak bisa menyadarinya sejak awal. Hft.. Nan paboya! Kkk.. Lagi pula namja mana yang tidak akan menjadi bodoh jika berhadapan dengan Nana. Haha.. Lihat saja namja populer disekolah setingkat Baekhyun! Pfft.." Goda Chanyeol kemudian sembari mencubit pipi Nana.

"Kya!" Protes Nana sembari memukul pundak Chanyeol. "Ya, tunggu apa lagi?! Ayo cepat pergi dari sini! Jia pasti sudah menunggumu di rumah sakit!" Usir Nana dengan wajah yang ia buat antagonis dan tangan yang masih memukul-mukul pundak Chanyeol.

"Ya.. aish.. haha.. iya, iya.. Haha.. Aku akan segera pergi. Kau benar, Jia pasti sudah menungguku. Ya.. berhenti.. Haha.." Tawa Chanyeol yang sama sekali tidak terlihat kesakitan mendapat pukulan-pukulan dari Nana. Chanyeol kemudian pergi dan menghilang dibalik gerbang.
Belum sekejap ia pergi, Chanyeol kembali berbalik dan berlari menuju Nana lalu memeluk Nana lagi. "Jeongmal Gomapta.. Sekarang tidak ada alasan lain, pakailah cincin ini!" Cincin yang tempo hari ditolak Nana ditaman kini berhasil Chanyeol lingkarkan di jari manis Nana. "Tidak peduli apapun, sudah ku bilang aku akan tetap menjadi Yeolli kecilmu yang dulu. Kau bisa memanggilku kapan pun kau mau. Karena kita akan tetap bersahabat, kan?" Tanya Chanyeol. Nana menganguk mantap, tetap berusaha menyembunyikan kehancuran di hatinya. Namun air matanya tidak bisa ia tahan lagi. "Ya ya ya.. waeyo? Kenapa kau menangis?" Tanya Chanyeol.

Nana menghambur kepelukan Chanyeol dan membenamkan wajahnya didada Chanyeol. Mencoba mencari kenyamanan didalam sana. "Aku tidak pernah merasakan patah hati seindah ini. Maksudku, aku baru saja menolakmu, dan aku takut kau akan terluka karena hal itu. Tapi ternyata kau menjadi lebih bahagia karena penolakanku. Aku merasa lega." Ucap Nana. Tidak, itu bukan sepenuhnya alasan yang membuatnya menangis.

"Gwaenchana. Nan gwaencahan. Aku juga tidak pernah merasakan patah hati seindah ini. Kau baru saja menolakku, tapi sungguh, aku baik-baik saja. Gomapta. Geokjong hajima, kau sama sekali tidak menyakitiku. Bahkan kau membantuku melihat rahasia didalam hatiku. Kau adalah sahabat terbaikku." Ucap Chanyeol mencoba menenangkan.

" (hanya) Sahabat." Nana tersenyum miris.

"Selamanya." Tambah Chanyeol.

"Selamanya." Timpal Nana.
Chanyeol tersenyum tenang setelah ia memastikan bahwa Nana dalam keadaan (yang Chanyeol kira) baik-baik saja. Canyeol pun pergi, dan kali ini benar-benar pergi.

Tak terasa air mata Nana semakin deras. Senyuman yang ia pertahankan mulai memudar, dagunya bergetar pun bahunya. Namun sekeras apapun Nana menahan isakannya, ia tidak pernah berhasil. Ia menangis sejadi-jadinya. Menatap kosong pada ubin dingin dibawahnya.

"Gadis yang pintar." Ucap seseorang yang entah sejak kapan berdiri dihadapan Nana.

Nana mendongak, "Ia tidak benar-benar mencintaiku." Ucap Nana pada seseorang yang selalu hadir di saat seperti ini. Siapa lagi? Baekhyun tentunya. "Tapi bukan kah itu bagus? Itu artinya aku dan Chanyeol akan selamanya menjadi sahabat baik, saling menjaga satu sama lain, dan tidak saling menyakiti." Lanjut Nana sembari tersenyum, namun tetap dengan mata yang menatap kosong pada ubin. "Aku sering melihat pasangan yang dulunya saling mencintai, lalu mereka hidup bersama, tapi pada akhirnya mereka saling menyakiti satu sama lain. Aku sering melihatnya. Kenapa itu terjadi Baekhyun ah? Kenapa selalu itu terjadi disekitarku? Apa tidak ada cinta yang bahagia untukku?" Celoteh Nana lagi. Ia kembali menangis sejadi-jadinya.

"Kau lihat di atas sana?" Tanya Baekhyun menujuk langit.
Psikologis seseorang yang menangis adalah menunduk. Dan Baekhyun melakukan hal yang tepat saat melihat Nana menangis. Ia tidak meminta Nana untuk berhenti menangis, ia hanya meminta Nana mengangkat kepalanya dan melihat ke atas langit. Dan itu berhasil. Nana terdiam dan mengusap air matanya agar ia bisa melihat dengan jelas ke atas langit yang gelap.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Baekhyun lagi.

"Aku tidak melihat apapun. Hanya langit malam yang gelap. Biasanya selalu ada bintang saat malam hari. Tapi malam ini, langit seperti hatiku. Benar-benar gelap." Jawab Nana melankolis.

"Betapa pun gelapnya, percayalah sekarang di atas sana tetap ada bintang." Tutur Baekhyun.

"Kau melihatnya?" Kali ini Nana yang bertanya.

"Tentu. Aku melihatnya. Seperti aku melihat diriku sendiri." Jawab Baekhyun. "Nana ya, sama seperti bintang, percayalah pasti ada seseorang yang benar-benar mencintaimu. Meski kau belum bisa melihatnya. Dan percayalah, ada cinta yang bahagia untukmu." Lanjut Baekhyun.
Nana pun tersenyum. Kali ini ia menjadi lebih tenang. Baekhyun memang selalu bisa membuat Nana menjadi lebih baik dalam keadaan seperti ini. Mereka beralih duduk diberanda dan menatap langit yang gelap.

Sementara itu, dari balik jendela didalam rumah, dua pasang mata diam-diam tengan memerhatikan Nana dan Baekhyun.

"Chagiya, lihatlah apa yang telah kita lakukan pada anak kita, Nana." Bisik seorang lelaki paru baya.

"Kita telah menjadi orang tua yang sangat buruk dan membiarkan Nana tumbuh dalam keadaan tidak baik. Bagaimana bisa selama ini kita membiarkan hal ini terjadi? Betapa buruknya kita. Kasihan Nana.. Nana ya, jeongmal mianhaeyo.. maafkan eomma.." Lirih wanita bernama Nyonya Park, Ibu Nana, menjawab pertanyaan suaminya barusan.

"Geurae. Chagiya," Tuan Park menggengam lengan Nyonya Park, di pandangnya dalam-dalam manik mata Nyonya Park, mencoba mencari sisa cinta yang mungkin masih tersisa untuknya. "Maukah kau membantuku memperbaiki suatu hal? Memperbaiki rumah tangga kita, mari kita mulai lagi semuanya dari awal. Demi cinta kita, demi saat pertama kita bertemu, demi saat pertama kita saling menyatakan cinta, demi Nana anak kita. Demi keluarga kita." Pinta Tuan Park.

"geurae, yeobo." Air mata Nyonya Park mengalir haru. Mereka tersenyum, lalu saling berpelukan.

"Jadi, setelah semua pertengkaran kita, kau masih saja mencintaiku?" Goda Tuan Park.

"Kya.. Kenapa kau menanyakan hal semacam itu? huh?! Mungkin aku sudah pergi membawa Nana dan mencari suami baru jika aku sudah tidak mencintaimu!" Jawab Nyonya Park gemas sembari mendorong dada Tuan Park yang masih memeluknya.

"Ya! Chagiya! Beberapa detik lalu kita baru saja berbaikan.. Tolong jangan memulai pertengkaran lagi.." Tuan Park memijat-mijat dahinya sendiri.

"Aku? memulai pertengkaran?! Kau yang memulainya, Tuan Park!!" Sengit Nyonya Park.

"Andwaeyo! Kau yang memulainya, Nyonya Park!!" Tuan Park tidak mau kalah.

"Andwaeyo!! Jelas jelas kau- Eh? mw mwoya? Kau memanggilku apa barusan?"

"Aku memanggilmu Nyonya Park!! Kau dengar?!" Tuan Park berbicara dengan nada tinggi, lalu membuang muka dan membalikkan badannya.

"Namaku Shin Hye Sung, kenapa kau memanggilku dengan sebutan Nyonya Park?" Kali ini Nyonya Park yang mencoba menggoda Tuan Park.

"Tentu saja karena kau istriku." Pertahanan Tuan Park melemah.

"Jadi, kau sendiri masih menginginkanku untuk tetap menjadi istrimu? Dasar suami gengsian! Kkk" Nyonya Park tertawa geli lalu memeluk Tuan Park dari belakang.

"Geurae. Sepertinya kita telah terjebak disini. Selamanya kau harus menjadi istriku. Dan selamanya aku akan menjadi suamimu. Mengerti? Jadi, mulai sekarang, seberapa besarpun masalah yang menimpa kita, ingatlah satu hal. Aku adalah suamimu. Meski terkadang aku kasar dan marah padamu, tapi aku tidak akan pergi begitu saja. Jeongmal mianhaeyo.. Saranghae.." Ucap Tuan Park.

"Um.. Algesumnida. Jeongmal mianhaeyo.. Nado saranghae." Sahut Nyonya Park.

.....

-TBC-

Catatan author:
Eh, ceritanya jadi aneh ya? Aku mau curhat.. Jadi sebenarnya tadinya part 3 ini mau langsung dibikin ending. Aku sudah hampir merampungkan/? ff ini dan ku simpan di tab. Tapi tab ku bermasalah dan harus di reset. App blogger yang terinstall di tab jadi hilang. Otomatis, part 3 yang ku simpan di draft app blogger, yang hampir ending itu juga ikutan lenyap!! T_T Jadi aku putusin untuk tulis ulang part 3 nya. Dan sayangnya aku gak ingat persis setiap rentetan/? kata-katanya. Dan di tengah-tengah menulis ulang part 3, aku malah kefikiran untuk nambah beberapa adegan/? yang sebelumnya tidak direncanakan. Yah jadilah seperti ini. Hehe.. Maaf kalau mengecewakan. -_-
Ih, di part 3 ini orang tuanya Nana baikan ya?! Alhamdulillah.. :D *sujud syukur* #Eh? -_-"
Dan kelanjutan cerita Sang anak aka Nana, juga Chanyeol, Baekhyun, dan Jia akan dilanjut di part 4 yang "insyaAllah" itu endingnya! Kkk..

Bocoran, di Part 4 nanti Park Chanyeol kembali ke rumah sakit untuk menemui Jia. Udah segitu aja bocoranya. :D *pelit mode on* Masalah nanti mereka jadian atau nggak, masalah hubungan Nana sama Baekhyun ada peningkatan atau cukup di friendzone aja *oops!! Pfft*, masalah Park Chanyeol jadi pergi ke Jepang atau nggak, atau mungkin Park Chanyeol dilema lagi antara Jepang atau ttp tinggal, antara Jia atau Nana *hadeuh..*, dan laain-lainnya, itu nanti aja dibahasnya kalau part 4 sudah terbit! :D


Jeongmal Gomawo for reading!! ^^
See you!


Readmore → Soulmate part 3 [Mianhae, Saranghae]